Samarinda, Klausa.co – Ancaman cuaca ekstrem dan fenomena El Nino yang diperkirakan memengaruhi musim kemarau tahun ini mulai diantisipasi Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kalimantan Timur (DPTPH Kaltim). Sejumlah langkah mitigasi disiapkan untuk menjaga produksi pertanian tetap berjalan dan pasokan komoditas hortikultura tidak terganggu.
Kepala DPTPH Kaltim Fahmi Himawan mengatakan, Indonesia saat ini mulai memasuki periode kemarau dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang. Meski demikian, kondisi cuaca di Kalimantan Timur dinilai masih relatif aman dibandingkan sejumlah daerah lain yang mulai mengalami kekeringan.
Menurut Fahmi, curah hujan yang masih terjadi di berbagai wilayah Kaltim menjadi faktor penting yang mendukung keberlangsungan aktivitas pertanian. Kondisi tersebut memungkinkan petani tetap menjalankan musim tanam, baik untuk komoditas pangan maupun hortikultura.
“Sekarang kita mulai memasuki musim kemarau dan puncaknya diperkirakan sekitar bulan Agustus. Namun, kita bersyukur Kaltim tidak mengalami kemarau yang terlalu ekstrem. Meskipun beberapa daerah sudah mulai kering, di Kaltim masih sering terjadi hujan dan kondisi cuaca masih cukup mendukung,” ujarnya, Jumat (12/6/2026).
Dia menilai kondisi tersebut menjadi peluang bagi petani untuk memaksimalkan pemanfaatan air hujan selama musim tanam berlangsung. Ketersediaan air yang masih cukup dinilai mampu menjaga produktivitas lahan pertanian dalam beberapa bulan ke depan.
Meski begitu, DPTPH tidak ingin lengah menghadapi potensi kemarau berkepanjangan akibat pengaruh El Nino. Karena itu, petani diminta mulai menyiapkan cadangan air sebagai langkah antisipasi sejak dini.
Salah satu upaya yang didorong pemerintah adalah penampungan air hujan yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai sumber irigasi ketika intensitas hujan mulai menurun.
“Petani kami dorong untuk melakukan penampungan air hujan sebagai langkah antisipasi apabila nanti memasuki masa kemarau yang lebih panjang,” katanya.
Selain mendorong kesiapan petani di lapangan, DPTPH Kaltim juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan dukungan sarana dan prasarana pertanian tetap tersedia. Komunikasi intensif dilakukan bersama Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian terkait percepatan penyaluran bantuan perpompaan dan jaringan perpipaan ke sentra-sentra produksi.
Fahmi menegaskan, infrastruktur pengairan menjadi salah satu faktor krusial dalam menjaga stabilitas produksi pertanian di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi.
“Koordinasi dengan pemerintah pusat terus kami lakukan agar bantuan perpompaan dan perpipaan bisa lebih cepat diterima petani. Ini menjadi langkah antisipatif untuk menjaga ketersediaan air apabila kemarau semakin intens,” tutupnya. (Din/Fch/Klausa)



















