Samarinda, Klausa.co – Program internet gratis Pemprov Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menunjukkan progres signifikan. Hingga akhir Agustus 2025, jaringan internet sudah terpasang di 441 desa dari total 841 desa yang menjadi sasaran. Namun, di balik capaian 52 persen itu, para penyedia layanan internet (vendor) mengaku menghadapi sejumlah tantangan teknis di lapangan.
Program yang dibiayai melalui APBD murni 2025 sebesar Rp12 miliar ini menggandeng empat perusahaan penyedia layanan, yakni PT Telkom, PT Telkomsel, PT PLN Icon Plus, dan PT Comtelindo.
Mereka mengerjakan pemasangan dengan berbagai skema teknologi, mulai dari fiber optik, wireless, hingga VSAT satelit. Untuk desa yang belum teraliri listrik, panel surya dipakai sebagai alternatif.
Hariyanto, perwakilan PT Comtelindo, menyebut medan pedesaan yang sulit menjadi kendala utama.
“Ada desa yang lokasinya berjauhan sehingga kabel optik yang ditarik sangat panjang. Belum lagi keterbatasan akses jalan dan listrik membuat pekerjaan tidak bisa dilakukan secepat yang diharapkan,” ujarnya, Sabtu (30/8/2025)
Selain itu, faktor alam juga ikut memengaruhi. Kabel yang sudah terpasang, kata Hariyanto, kadang rusak digigit hewan pengerat. Meski begitu, para vendor memastikan jaringan yang dipasang terus dipantau bersama perangkat desa untuk menjamin keberfungsiannya.
Kepala Dinas Kominfo Kaltim, Muhammad Faisal, menegaskan pihaknya menargetkan hingga akhir tahun 2025 setidaknya 700 desa sudah terkoneksi internet, sebelum seluruh target rampung pada tahun anggaran 2026.
“Vendor terus bekerja di lapangan, sementara iuran bulanan internet di desa ditanggung Pemprov hingga lima tahun ke depan,” katanya.
Ia menjelaskan, adapun titik awal pemasangan dipusatkan di kantor desa sebagai pusat layanan publik, dengan kapasitas hingga 100 Mbps. Seiring waktu, jaringan tersebut bisa dipindahkan ke fasilitas lain, seperti sekolah maupun puskesmas, sesuai kebutuhan tiap desa.
Dari sebaran desa yang telah terlayani, Kutai Kartanegara tercatat terbanyak dengan 117 desa, disusul Paser (90), Kutai Timur (85), Kutai Barat (64), Berau (58), Penajam Paser Utara (25), dan Mahakam Ulu (4 desa).
“Target kami jelas, agar seluruh desa di Kaltim tidak tertinggal dalam akses informasi maupun pelayanan publik digital,” tegas Faisal. (Din/Fch/Klausa)


















