Kubar, Klausa.co – Komitmen Kalimantan Timur (Kaltim) untuk keluar dari bayang-bayang ketergantungan pangan nasional kembali diuji dalam gelaran Pekan Daerah (PEDA) XI KTNA 2025 yang digelar di Taman Budaya Sendawar, Kutai Barat. Acara ini dibuka langsung oleh Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud atau yang akrab disapa Harum, Sabtu (21/6/2025).
Selama sepekan, petani dan nelayan dari 10 kabupaten/kota se-Kaltim berkumpul dan berdiskusi soal strategi kedaulatan pangan. Tema yang diusung tahun ini, meningkatkan produksi dan daya saing petani-nelayan menuju swasembada pangan di Bumi Etam.
Dalam pidatonya, Harum tak segan menegaskan bahwa isu ketahanan pangan tak bisa lagi diperlakukan sebagai urusan pinggiran.
“Ketahanan pangan bukan sekadar urusan dapur, tapi menyangkut kedaulatan bangsa. Jika masih impor, jangan mimpi bicara soal kemandirian,” ujarnya di hadapan para peserta dan tamu undangan.
Salah satu langkah yang diambil Pemprov adalah menetapkan harga gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram. Sementara itu, untuk menjamin keterjangkauan distribusi, Bulog diminta menjemput langsung hasil panen ke lokasi produksi. Kebijakan ini diharapkan tak hanya menstabilkan harga, tapi juga meningkatkan pendapatan petani lokal.
Namun, Harum juga bicara jujur soal realita. Produksi beras Kaltim saat ini masih jauh dari ideal.
“Tahun lalu kita hanya mampu menghasilkan 145 ribu ton. Sementara kebutuhan kita lebih dari 364 ribu ton. Artinya, masih defisit 200 ribu ton lebih,” ungkapnya.
Ia menantang seluruh kepala daerah, terutama Kutai Barat yang menjadi tuan rumah PEDA, untuk memperluas lahan pertanian dan tak ragu mengejar provinsi tetangga.
“Kalimantan Barat, Tengah, Selatan, dan Utara sudah swasembada. Giliran kita sekarang,” tegasnya.
Pemerintah pusat sendiri telah memberikan dukungan melalui program Brigade Pangan 2025. Sebanyak 13.900 hektare lahan baru ditargetkan dibuka di enam kabupaten/kota, termasuk Samarinda, Paser, dan Kutai Kartanegara.
Dalam kesempatan itu, Harum juga menyebut pentingnya modernisasi. Teknologi pertanian dan sistem irigasi cerdas harus menjadi tulang punggung produktivitas. Ia berharap Kubar bisa menjadi model keberhasilan yang akan memicu daerah lain untuk mengejar ketertinggalan.
“Kalau bukan kita yang mandiri, siapa lagi? Ini soal masa depan, bukan sekadar panen hari ini,” pungkas Harum. (Din/Fch/ADV/Diskominfo Kaltim)

















