Samarinda, Klausa.co – Plenary Hall Samarinda dipenuhi ratusan penonton yang datang untuk menyaksikan pertunjukan stand up comedy bertajuk “Kaltim Paradox” yang dibawakan Pandji Pragiwaksono, Sabtu (13/6/2026) malam.
Sejak naik ke atas panggung, Pandji langsung membangun kedekatan dengan audiens melalui materi yang menyinggung berbagai fenomena sosial, kebiasaan masyarakat, hingga isu-isu keseharian yang akrab di telinga penonton. Gelak tawa dan tepuk tangan beberapa kali menggema sepanjang pertunjukan berlangsung.
Atmosfer hangat yang tercipta selama acara menjadi penanda tingginya antusiasme masyarakat terhadap pertunjukan seni, khususnya stand up comedy. Bagi promotor, respons tersebut menunjukkan bahwa panggung hiburan masih menjadi ruang yang relevan untuk menyampaikan gagasan sekaligus menikmati pertunjukan yang menghibur.
CEO B Epic Events dan B First Project, Rifky Nugraha Wardana, mengaku puas dengan tingginya minat masyarakat yang hadir pada malam itu. Menurutnya, stand up comedy memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar mengundang tawa.
“Antusias masyarakat luar biasa malam ini. Melalui stand up comedy, kritik ternyata bisa disampaikan dengan cara yang lebih kreatif. Tidak selalu harus melalui demonstrasi, tetapi juga dapat disampaikan melalui karya seni yang menghibur,” kata Rifky usai acara.
Sebelum penampilan utama dimulai, sejumlah komika lokal dari berbagai daerah di Kalimantan Timur (Kaltim) turut membuka pertunjukan. Mereka berasal dari Samarinda, Balikpapan, hingga Penajam Paser Utara.
Kehadiran para komika lokal itu sengaja diakomodasi sebagai upaya memberi ruang bagi talenta daerah untuk tampil di panggung yang lebih besar dan menjangkau audiens yang lebih luas.
Di sisi lain, Rifky juga menanggapi sejumlah komentar penonton yang menilai tema “Kaltim Paradox” tidak banyak mengulas isu-isu spesifik Bumi Etam. Dia menegaskan pihak promotor tidak pernah mengarahkan ataupun menitipkan materi kepada Pandji. Menurutnya, seluruh isi pertunjukan sepenuhnya menjadi hak kreatif komika yang tampil di atas panggung.
“Kami tidak pernah menitipkan materi. Semua isi pertunjukan sepenuhnya menjadi kewenangan Bang Pandji. Sebagai komika, beliau memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang ingin disampaikan kepada penonton,” ujarnya.
Rifky juga menjelaskan soal komunikasi yang dilakukan dengan aparat kepolisian menjelang acara berlangsung. Ia memastikan koordinasi tersebut hanya berkaitan dengan pengamanan kegiatan agar seluruh rangkaian acara berjalan tertib dan kondusif.
“Koordinasi itu murni terkait pengamanan acara. Mengingat tema yang diangkat bisa menimbulkan beragam respons, kami bersama kepolisian ingin memastikan kegiatan berlangsung aman dan kondusif. Tidak ada pembatasan materi dari pihak promotor maupun aparat. Seluruh materi tetap menjadi tanggung jawab Bang Pandji dan timnya,” tutupnya. (Din/Fch/Klausa)

















