Samarinda, Klausa.co – Rapat konsultasi pimpinan DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) terkait hak angket tak hanya diwarnai perdebatan substansi, tetapi juga memunculkan konflik terbuka antaranggota dewan. Adu pernyataan di grup internal berujung laporan resmi ke Badan Kehormatan (BK).
Ketegangan mencuat antara Wakil Ketua Fraksi Gerindra, Akhmed Reza Fachlevi, dan Anggota Fraksi Golkar, Syahariah Mas’ud. Perselisihan dipicu pernyataan Syahariah di grup WhatsApp internal DPRD Kaltim yang dinilai menyindir secara personal.
Reza menilai forum tersebut seharusnya digunakan untuk komunikasi kedinasan, bukan untuk melontarkan kritik yang bersifat pribadi. Ia mengaku keberatan atas isi pesan yang dianggap tidak mencerminkan etika komunikasi di lingkungan dewan.
“Saya melakukan pembelaan pribadi. Saya memperjuangkan masyarakat Kaltim agar hak angket ini masuk dalam jadwal Banmus, dan memang saya yang ingin menjadwalkan,” ujarnya.
Tak hanya itu, Reza juga membantah tudingan bahwa Fraksi Gerindra tidak turun menemui massa dalam aksi 214 jilid II. Ia menegaskan, pihaknya bersama fraksi lain telah melakukan pertemuan dengan massa pada aksi sebelumnya, bahkan menyebut Fraksi Golkar justru tidak hadir saat itu.
Menurutnya, setiap fraksi memiliki tanggung jawab masing-masing dan tidak semestinya saling mencampuri urusan internal.
“Tidak boleh satu fraksi mencampuri urusan fraksi lain. Kami punya tanggung jawab masing-masing. Selama ini kami juga turun menemui massa,” tegasnya.
Merasa pernyataan tersebut telah melampaui batas etika, Reza melaporkan Syahariah ke Badan Kehormatan DPRD Kaltim. Ia menekankan pentingnya menjaga norma komunikasi dalam forum resmi.
“Ini soal etika. Grup ini forum komunikasi kedinasan, bukan tempat menyampaikan sikap pribadi,” katanya.
Di sisi lain, Syahariah mengakui pernyataannya dipicu emosi. Ia mengaku kesal karena menilai Reza menjadi pihak yang paling mendorong penjadwalan hak angket, sementara fraksi lain tidak merespons ketika Golkar berinisiatif menemui massa aksi.
Namun, berdasarkan pantauan di lapangan, tidak terlihat kehadiran anggota dewan, baik dari Golkar maupun fraksi lainnya, yang menemui massa hingga aksi 214 jilid II berakhir. (Din/Fch/Klausa)




















