Samarinda, Klausa.co – Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menghadapi tekanan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin besar saat memasuki periode kemarau. Ancaman itu kian menjadi perhatian karena pemerintah daerah juga mengantisipasi potensi fenomena El Nino yang dapat membuat kondisi kering berlangsung lebih lama.
Data Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim hingga 26 Agustus 2026 mencatat 547 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak mencapai 1.595,81 hektare. Yang paling mencolok, 422 kejadian dengan luasan 1.362,59 hektare terjadi sepanjang Agustus. Sementara Januari hingga Juli tercatat 125 kejadian dengan luas 233,23 hektare.
Dengan demikian, sekitar 85 persen dari total luasan karhutla tahun ini terjadi hanya dalam satu bulan. Kondisi tersebut menjadi sinyal kewaspadaan ketika puncak kemarau beriringan dengan ancaman El Nino.
Paser menjadi daerah dengan kejadian terbanyak, yakni 151 kasus dengan luasan 358,93 hektare. Sementara luasan terbesar tercatat di Kutai Kartanegara (Kukar) dengan 480,38 hektare dari 53 kejadian, disusul Kutai Barat (Kubar) 383,67 hektare dari 77 kejadian.
Kepala BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan peningkatan risiko tersebut direspons dengan memperkuat pemantauan dan kesiapsiagaan di lapangan.
“Pusdalops BPBD Kaltim melaksanakan pemantauan selama 1 x 24 jam terkait informasi sebaran titik panas dan kejadian karhutla, berkolaborasi bersama mitra kebencanaan seperti BMKG dan Kementerian Kehutanan,” kata Buyung dalam Jumpa Pers di Ruang WIEK Diskominfo Kaltim, Kamis (27/8/2026).
BPBD juga menyiagakan personel Tim Reaksi Cepat (TRC), sarana prasarana karhutla dan mendistribusikan logistik ke BPBD kabupaten dan kota. Koordinasi dengan OIKN, relawan DESTANA, MPA, KTPA serta komunitas kebencanaan turut diperkuat.
Sementara itu, Koordinator Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Dinas Kehutanan Kaltim, Rahmadi, menyebut kondisi kebakaran masih perlu dikendalikan karena penambahan luasan terus terjadi selama Agustus.
“Dengan kondisi kemarau dan potensi El Nino, pemantauan serta pengendalian karhutla perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama di wilayah yang memiliki luasan dan kejadian cukup tinggi,” ujar Rahmadi.
Dari pemantauan hotspot, dalam 48 jam hingga 26 Agustus terdapat 625 titik panas di Kaltim. Berau menjadi daerah dengan hotspot terbanyak, mencapai 195 titik, disusul Kutai Kartanegara 117 titik, Kutai Timur 96 titik dan Paser 48 titik.
Ancaman serupa juga menjadi perhatian sektor perkebunan. Plt Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Arief Murdiyatno, menekankan perusahaan tidak boleh hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah muncul. Kesiapan personel, sistem pengendalian, sarana pemadaman dan Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) perlu diperkuat.
“Potensi El Nino dan kondisi kering harus diantisipasi dengan memperkuat pencegahan. Pengendalian kebakaran membutuhkan kolaborasi pemerintah, perusahaan dan masyarakat,” kata Arief.
Dinas Perkebunan juga menyiagakan Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan Perkebunan (Dalkarlabun) untuk mendukung pencegahan, mitigasi, koordinasi dan penanganan kebakaran.
Kaltim sendiri berdasarkan pemetaan nasional berada di posisi kesembilan sebagai daerah paling rawan karhutla. Pemerintah pun memperkuat kesiapsiagaan melalui rapat anomali cuaca, simulasi, penyusunan rencana kontingensi serta apel kesiapsiagaan di Paser dan Penajam Paser Utara.
Menutup forum, Kepala Diskominfo Kaltim Ririn Sari Dewi menyampaikan kondisi penerbangan di sekitar Kaltim masih aman. Ia berharap perubahan cuaca segera terjadi dan hujan turun untuk membantu meredakan kondisi kering.
“Informasi terkait penerbangan di sekitar Kaltim masih dinyatakan aman. Kita berdoa bersama jangan sampai muncul awan pekat dan segera turun hujan untuk meredakan kemarau saat ini,” tutup Ririn. (Din/Fch/Klausa)














