Lompat ke konten utama

Klausa.co

Pasar Pagi Masih Sepi, Pemkot dan DPRD Siapkan Evaluasi

Bangunan Pasar Pagi Samarinda.

Bagikan

Samarinda, Klausa.co – Revitalisasi telah mengubah wajah Pasar Pagi Samarinda, tetapi geliat perdagangan di dalamnya belum sepenuhnya pulih. Sejumlah kios masih kosong dan kunjungan pembeli dinilai belum sesuai harapan.

Kondisi itu mendorong Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda bersama Komisi II DPRD Samarinda mengevaluasi penataan pedagang sekaligus konsep pasar agar kembali menarik bagi masyarakat.

Kepala Disdag Kota Samarinda, Nurrahmani, mengatakan Pemkot memberikan batas waktu hingga 31 Agustus kepada sekitar 700 pedagang yang belum menempati lapaknya untuk segera masuk.

Meski demikian, pemerintah tidak akan serta-merta menarik atau memblokir kios yang belum ditempati setelah tenggat tersebut. Tim gabungan yang terdiri dari Disdag, Satpol PP, Inspektorat, dan Bagian Hukum akan lebih dulu menyusun langkah penanganan melalui SOP.

Baca Juga:  Tiang Listrik Ganggu Akses Warga, Novan Syahronny akan Kawal Proses Pencabutan

“Langsung tarik atau brendel itu tidak bisa. Kami ada tim dan SOP langkah-langkahnya. Sinyal 31 Agustus itu diberikan agar pedagang bersiap, tapi sebelum ada tindakan, kami akan rapat dulu memperhatikan kondisi ekonomi pedagang di lapangan,” ujar Nurrahmani, belum lama ini.

Untuk mendatangkan lebih banyak pengunjung, Disdag juga menyiapkan event rutin sebulan sekali serta pasar murah tiga hingga empat kali dalam setahun. Kegiatan tersebut akan ditempatkan di halaman luar atau teras atas agar tidak mengganggu pedagang di dalam pasar.

“Untuk jualan di event tersebut, kami utamakan pedagang di dalam pasar. Komoditas yang dijual seperti beras SPHP atau Minyakita pun diatur agar tidak mematikan jualan pedagang yang sudah ada,” jelasnya.

Baca Juga:  Rudy Mas’ud Absen di Dialog JKN, Andi Harun: Tidak Fair Kadis Pasang Badan

Sementara itu, Komisi II DPRD Samarinda menilai persoalan Pasar Pagi tidak hanya terletak pada keberadaan pedagang, tetapi juga konsep bangunan dan pola belanja masyarakat.

Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, mengakui secara estetika bangunan Pasar Pagi sudah jauh lebih baik. Namun, fungsi ekonominya belum berjalan optimal.

“Pasar sudah dibangun mahal, tapi fungsinya tidak jalan dan pedagang yang kasihan. Kultur masyarakat kita kan biasa belanja cepat dari atas motor, sementara bangunan sekarang harus naik tangga. Konsep ini yang perlu kita cari solusinya bersama, tidak usah saling menyalahkan lagi,” ungkapnya.

DPRD mendorong Pemkot menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan akademisi, praktisi, penggiat ekonomi kreatif, dan perwakilan pedagang. Kajian itu diperlukan untuk melihat kemungkinan penyesuaian fungsi ruang hingga rebranding Pasar Pagi.

Baca Juga:  Ketua RT dan KPPS TPS 7 Loa Jana Ulu Diduga Terlibat Politik Uang

Hasil evaluasi nantinya akan dibawa kepada Wali Kota Samarinda sebagai dasar menentukan kebijakan lanjutan.

“Jadi kita ingin konsepnya dievaluasi. Kalau perlu ada rebranding, kita kaji bersama. Jangan sampai bangunannya bagus, tetapi orang tidak mau datang,” pungkas Iswandi. (Din/Fch/Klausa)

Bagikan

.

.

Search
logo klausa.co

Afiliasi :

PT Klausa Media Indonesia

copyrightâ“‘ | 2021 klausa.co