Samarinda, Klausa.co – Pertumbuhan Ibu Kota Nusantara (IKN) membawa peluang sekaligus tantangan baru bagi Kalimantan Timur (Kaltim). Ketika investasi dan jumlah penduduk bertambah, kebutuhan pangan ikut meningkat. Kaltim pun dituntut tak sekadar menjadi daerah penyangga, tetapi mampu memasok kebutuhan pangan ibu kota baru.
Persoalan itu mengemuka dalam Seminar Ketahanan Pangan yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (Unmul) bersama Pemuda Inspirasi Nusantara, pada Jumat (22/8/2026), di Ruang Teater Gedung Prof Masjaya.
Wakil Ketua Umum Bidang Pangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim, Lani Tanujaya, menyebut peluang tersebut mulai terlihat dari pertumbuhan produksi jagung. Produksi komoditas itu meningkat dari 3.955 ton pada 2024 menjadi 10.290 ton pada 2025, atau naik lebih dari 160 persen.
Di sisi lain, kebutuhan industri juga cukup besar. Sebuah pabrik pengolahan di Samboja membutuhkan sekitar 40–50 ton jagung per hari. Kondisi tersebut menunjukkan adanya pasar yang dapat langsung menyerap hasil produksi petani.
“Prinsipnya sederhana, petani menanam, industri menyerap,” ujar Lani.
Menurut dia, dengan kepastian pasar, usaha tani jagung dapat menjadi pilihan ekonomi yang menarik bagi generasi muda. Satu hektare lahan, dalam simulasi yang dipaparkannya, berpotensi menghasilkan laba bersih sekitar Rp10–15 juta per musim tanam.
Namun, kemajuan produksi jagung belum menutup persoalan pangan Kaltim secara keseluruhan. Provinsi ini masih mengalami defisit sekitar 170.000 ton beras per tahun dan bergantung pada pasokan dari luar daerah. Lahan sawah juga terus menghadapi tekanan alih fungsi untuk pertambangan dan perkebunan sawit.
Sementara, Guru Besar Fakultas Pertanian UNMUL, Prof Bernatal Saragih, menilai ketahanan pangan tidak cukup dilihat dari jumlah produksi. Akses masyarakat terhadap pangan, pemanfaatan, serta stabilitas pasokan juga harus diperkuat.
Persoalan distribusi menjadi salah satu tantangan utama. Biaya logistik yang tinggi dan sulitnya menjangkau sejumlah wilayah pedalaman membuat pasar pangan Kaltim belum sepenuhnya terhubung. Bernatal mengusulkan lima hub logistik regional yang mengintegrasikan jalur sungai, jalan nasional, pelabuhan, dan bandara.
“IKN bisa menjadi katalisator, tapi juga bisa menjadi beban tambahan, tergantung apakah produksi dan distribusi lokal kita diperkuat atau tidak,” kata Bernatal.
Dari perspektif adat, Hendrik Tandoh mengingatkan bahwa masyarakat Kaltim sebenarnya memiliki pengalaman panjang dalam membangun ketahanan pangan. Ia mengenang pola berladang masyarakat pedalaman yang membuat kebutuhan pangan, rempah, hingga tanaman obat tersedia di sekitar permukiman.
Kini, kondisi tersebut menghadapi tekanan akibat menyusutnya lahan pertanian. Hendrik juga menyoroti perubahan orientasi generasi muda yang lebih banyak memilih bekerja di perusahaan atau menjadi ASN.
“Kita dimanjakan oleh investasi yang ada,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat kembali memulai dari hal sederhana, termasuk memanfaatkan pekarangan untuk menanam kebutuhan pangan. Menjelang musim kemarau, ia juga mengingatkan ancaman kebakaran lahan yang dapat mengganggu masa tanam petani di wilayah hulu.
Sementara itu, Perwakilan Pemuda Kaltim, Alfonsius Limba, menilai keberadaan industri pupuk di Kaltim merupakan modal penting untuk memperkuat pertanian. Ia mendorong mahasiswa ikut membantu petani mengakses pupuk bersubsidi serta mengawal distribusinya.
Wakil Dekan III Fakultas Pertanian Unmul, Ir. Suhardi, menegaskan bahwa tantangan tersebut membutuhkan keterlibatan generasi muda.
“Peran strategis pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton; pemuda harus menjadi pemain utama,” ujarnya.
Pesan itu menjadi benang merah seminar. Kampus, pemerintah, dunia usaha, petani, pemuda, dan masyarakat perlu bergerak bersama agar peluang pasar yang tumbuh seiring perkembangan IKN tidak justru diisi oleh pasokan dari luar daerah.
Bagi Prof. Bernatal, generasi muda juga perlu mengambil posisi lebih jauh, bukan hanya sebagai konsumen pangan, tetapi produsen, pencipta teknologi, dan pencipta nilai tambah.
“Membangun Kalimantan, Menghidupi Nusantara,” pungkasnya. (Din/Fch/Klausa)

















