Klausa.co

Kekerasan Terhadap Anak Meningkat, Komisi IV DPRD Kaltim Sebut Ada Krisis Psikososial di Keluarga

Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, H Baba. (Din/Klausa)

Bagikan

Samarinda, Klausa.co – Rentetan kasus kekerasan terhadap anak yang muncul di berbagai daerah di Kalimantan Timur (Kaltim) mendorong Komisi IV DPRD Kaltim memasang mata. Pola yang terus berulang dinilai bukan lagi persoalan insidental, tetapi tanda kondisi psikososial dalam keluarga tengah rapuh dan tidak tertangani dengan baik.

Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, H. Baba, menyebut sejumlah laporan terbaru justru mengarah pada keterlibatan orang tua sebagai pelaku. Dalam situasi sepert ini, kata dia, menggambarkan bahwa masalah mendasar dalam kesehatan mental keluarga tidak pernah benar-benar tersentuh oleh mekanisme pencegahan yang selama ini berjalan.

“Ini menunjukkan adanya faktor laten yang luput dari sistem pencegahan,” ujar Baba, Rabu (10/12/2025).

Dia menilai tindakan ekstrem, mulai dari kekerasan berat hingga dugaan pembunuhan anak oleh orang tua, harus dibaca sebagai indikator darurat bahwa deteksi dini masalah mental dalam rumah tangga masih sangat lemah.

Baca Juga:  Jalan Santai Sambut Pekan Keselamatan Jalan 2023, Bupati Kukar: Kita Punya Kewajiban Jaga Keselamatan di Jalan Raya

“Ketika orang tua kehilangan kendali hingga mencelakai atau bahkan menghilangkan nyawa anaknya, itu bukan sekadar tragedi. Itu gejala yang perlu ditelaah lebih dalam,” tegasnya.

Baba menjelaskan, faktor pemicu kekerasan tidak berdiri sendiri. Selain kondisi mental yang tidak pernah terdiagnosis, tekanan ekonomi, relasi rumah tangga yang tidak sehat, hingga pola asuh yang tidak berkembang menjadi kombinasi yang memperbesar risiko terjadinya kekerasan.

Baba mengkritik pola penanganan yang selama ini lebih menitikberatkan pada proses hukum. Namun aspek psikologis pelaku dan korban kerap tertinggal.

“Tidak sedikit orang tua yang tidak punya keterampilan mengelola emosi dan bingung menghadapi perilaku anak yang menantang,” ujarnya.

Menurutnya, sejumlah kasus menunjukkan bahwa pelaku membutuhkan intervensi profesional jauh sebelum kekerasan itu terjadi. Namun akses terhadap layanan kesehatan mental masih terbatas, terutama bagi keluarga rentan.

Baca Juga:  Masih Matangkan Skema TPP ASN, Sekdaprov Kaltim: Belanja Pegawai di Bawah 30 Persen

Baba menegaskan, perlunya edukasi pola asuh yang lebih humanis dan relevan dengan perkembangan psikologi anak. Dia menilai pendekatan keras yang diwariskan dari generasi sebelumnya sudah tidak lagi sesuai dengan dinamika keluarga masa kini.

“Masalahnya bukan hanya perilaku anak, tetapi sejauh mana orang tua memahami kapasitas dirinya,” tutupnya. (Din/Fch/ADV/DPRD Kaltim)

Bagikan

.

.

Search
logo klausa.co

Afiliasi :

PT Klausa Media Indonesia

copyrightâ“‘ | 2021 klausa.co