Samarinda, Klausa.co – Diskusi soal masa depan desa wisata Kalimantan Timur (Kaltim) digelar di atas kapal wisata Pesut Harmony yang melaju pelan menyusuri Sungai Mahakam, Minggu (7/12/2025). Selama dua jam perjalanan menuju Tenggarong, para peserta dari Dinas Pariwisata Kaltim, akademisi Politeknik Negeri Samarinda, hingga pelaku pariwisata membahas bagaimana desa wisata dapat menjadi episentrum ekonomi generasi emas Kaltim.
Kepala Dispar Kaltim, Ririn Sari Dewi, menegaskan bahwa desa wisata budaya masuk dalam program unggulan Gubernur Rudy Mas’ud. Fokusnya adalah meningkatkan kualitas desa wisata agar tumbuh sebagai pusat ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan.
“Kolaborasi antar-stakeholder itu krusial. Dari pembiayaan sampai pengembangan, semuanya butuh kerja bersama,” kata Ririn di atas geladak kapal.
Menurutnya, Dispar menargetkan kenaikan jumlah sekaligus peningkatan status desa wisata setiap tahun. Kerja sama dengan BUMN, BUMD, OPD, hingga sektor swasta terus diperluas. Meski begitu, tantangan masih nyata, mulai dari tata kelola, keterbatasan SDM, hingga infrastruktur dasar yang belum merata.
“Dengan pemotongan TKD tentu berpengaruh. Tapi kami tetap komit mengembangkan desa wisata,” ujarnya.
Ririn juga menyampaikan bahwa Dispar tengah merampungkan rancangan Pergub tentang pengembangan desa wisata dengan dukungan akademisi dari Politeknik Negeri Samarinda (Polnes).
Sementara itu, Sekretaris dan Plt Kabid Pemasaran Dispar Kaltim, Restiawan Baihaqi, menambahkan bahwa saat ini Kaltim memiliki 68 desa wisata dan 175 Pokdarwis. Ia menyoroti capaian Desa Pringgodani di Tritip yang berhasil menembus posisi empat besar desa wisata nasional.
Dari sisi akademisi, I Wayan Lanang Nala dari Polnes menekankan bahwa kekuatan pariwisata Kaltim berada pada keunikan lokal. Ia menyebut contoh Desa Melahing di Bontang dengan permukiman di atas laut dan komunitas pengusaha rumput laut, serta Desa Pela yang menjadi habitat alami Pesut Mahakam.
“Siapa yang tidak kenal Pesut? Kapal yang kita pakai saja dinamai Pesut Harmony,” ujarnya.
Lanang menilai narasi digital Kaltim masih lemah. Ia menyayangkan pencarian soal pariwisata Borneo di internet lebih banyak menampilkan Sarawak, Sabah, dan Kalteng, sementara Kaltim belum muncul kuat.
Karena itu, ia menekankan pentingnya penguatan kolaborasi pentahelix. Sebuah kolaborasibpemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media, agar desa wisata dapat tumbuh lebih cepat dan kompetitif.
“Media punya peran besar membuka ruang digital. Kaltim harus kuat dulu di kompetisi regional sebelum bersaing di tingkat nasional,” pungkasnya. (Din/Fch/Klausa)















