Samarinda, Klausa.co – Genangan yang terus berulang di kawasan Jalan Sukorejo, Lempake, akhirnya mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kota Samarinda. Empat titik rawan banjir di wilayah itu kini ditetapkan sebagai prioritas penanganan darurat menyusul kondisi drainase yang dipenuhi sedimentasi lumpur dan pasir.
Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, mengatakan langkah awal yang dilakukan pemerintah adalah mempercepat pembersihan saluran drainase tanpa menunggu proyek infrastruktur jangka panjang berjalan.
Menurutnya, sedimentasi yang menumpuk selama ini menjadi penyebab utama aliran air tersendat hingga meluap ke badan jalan setiap kali hujan deras mengguyur kawasan Sukorejo dan sekitarnya.
“Penanganan dilakukan lebih cepat tanpa harus menunggu proyek infrastruktur jangka panjang,” ujarnya.
Dia menegaskan penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara parsial. Koordinasi lintas instansi disebut menjadi kunci agar pengerukan sedimentasi berjalan efektif, mulai dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) hingga pemerintah kelurahan.
Pemkot Samarinda mencatat sedikitnya terdapat 17 titik rawan banjir di berbagai wilayah kota. Namun kawasan Sukorejo-Lempake dipilih sebagai fokus awal karena kondisi drainasenya dinilai sudah mengganggu aktivitas dan akses vital masyarakat.
Saefuddin menyebut Dinas PUPR telah diminta menyiagakan alat berat untuk membongkar saluran air yang tertutup sedimentasi tebal. Pemerintah ingin memastikan aliran air kembali normal agar genangan dapat berkurang saat hujan turun.
“Fokus awal kami adalah membuka kembali aliran air yang tersumbat agar genangan bisa segera berkurang ketika hujan turun,” katanya.
Pengerukan dan pembersihan massal dijadwalkan dimulai pekan ini. Selain mengerahkan alat berat, pemerintah juga akan melibatkan warga sekitar untuk membersihkan saluran air di lingkungan permukiman.
Pemkot berharap penanganan di Sukorejo-Lempake dapat menjadi model bagi kawasan rawan banjir lain di Samarinda yang menghadapi persoalan serupa, terutama pendangkalan drainase akibat material yang terbawa dari area perbukitan.
“Kalau aliran drainase kembali normal, kami berharap dampak banjir di kawasan ini bisa ditekan dan aktivitas masyarakat tidak lagi terganggu setiap kali hujan deras,” tutupnya. (Din/Fch/Klausa)

















