Klausa.co

Urban Legend Kalimantan Masuk Layar Lebar, Sineas Lokal Buka Ruang Cerita Baru

Foto bersama Sineas film Kuyank dengan audiens forum Sumbu Tengah edisi 9, di Gedung Masjaya Unmul Hub Samarinda. (Din/Klausa)

Bagikan

Samarinda, Klausa.co – Cerita-cerita rakyat atau yang beken disebut urban legend di tengah masyarakat Kalimantan dinilai memiliki daya tawar kuat untuk menembus industri film nasional. Kesadaran itu mengemuka dalam diskusi Sumbu Tengah Edisi ke-9 bertajuk Ngobrol Film Kuyank Bareng Sineas, yang digelar bersama PPS FKIP Universitas Mulawarman di Gedung Masjaya Unmul Hub, Samarinda, Selasa (27/1/2026).

Diskusi ini mengangkat tema Urban Legend Kalimantan dalam Industri Film Nasional dengan menghadirkan sutradara, pemeran film Kuyank, akademisi, hingga budayawan. Forum ini menjadi ruang temu antara dunia akademik, industri kreatif, dan kebudayaan lokal.

Founder Sumbu Tengah sekaligus moderator diskusi, Rusdianto, menyebut gagasan acara ini berangkat dari realitas sederhana. Yakni soal cerita sehari-hari masyarakat menyimpan potensi ekonomi dan kultural yang besar jika dikelola secara kreatif.

“Obrolan masyarakat itu bisa diolah menjadi produk industri dan ternyata laku. Sekarang tren itu mulai terlihat,” ujar Rusdi

Baca Juga:  Mahakam Jadi Satu-satunya Sungai di Indonesia yang Masuk Forum Global Bioblitz 2025

Dia menegaskan, Sumbu Tengah dirancang sebagai ruang awal lahirnya inisiatif-inisiatif kreatif baru di Kalimantan, khususnya di sektor film.

“Mudah-mudahan dari forum seperti ini muncul gerakan baru dan karya baru ke depan,” katanya.

Salah satu pemeran dalam film Kuyank, dr. Daulat, yang juga dosen Fakultas Kedokteran Unmul, mengaku keterlibatannya di dunia film bermula dari keinginan mencoba pengalaman di luar profesinya.

“Masuk ke film ini bukan sesuatu yang saya rencanakan. Dunia film sangat berbeda dengan keseharian saya sebagai dokter dan dosen,” tuturnya.

Aktris Jolene Marie, pemeran Husna, menjelaskan bahwa karakter yang ia mainkan tidak sekadar sosok horor, melainkan figur dengan konflik batin yang kompleks.

“Husna sudah lelah dengan kehidupan gelapnya sebagai kuyang. Ia terjebak antara keinginan mengakhiri hidup dan kewajiban menurunkan ilmunya,” jelas Jolene.

Menurutnya, Kuyank menawarkan pendekatan horor yang berbeda karena mengangkat budaya Banjar secara otentik, termasuk bahasa dan latar sosialnya.

Baca Juga:  Balap Liar di Samarinda, Joha Fajal: Perlu Tindakan Tegas dan Peran Aktif Masyarakat

“Selama ini horor kita didominasi pocong dan kuntilanak. Di sini justru budaya lokal Kalimantan yang ditampilkan, itu yang membuat film ini menarik,” katanya.

Sementara itu, aktris senior Dayu Wijanto mengingatkan bahwa dunia perfilman tidak selalu seindah yang tampak dari luar. Ia menekankan pentingnya kesiapan mental bagi siapa pun yang ingin terjun ke industri ini.

“Industri film terlihat gemerlap, tapi prosesnya penuh perjuangan. Mimpi itu gratis, yang mahal adalah prosesnya,” ujar Dayu.

Ia juga menyoroti pentingnya etika kerja di lokasi syuting.

“Attitude itu nomor satu. Jangan pernah meremehkan kru, karena merekalah yang bekerja paling keras di lapangan,” tegasnya.

Sutradara Kuyank, Johansyah Jumberan, menceritakan proses kreatifnya yang bermula dari kegemaran menulis sejak tinggal di Kalimantan Selatan, Hulu Sungai Selatan. Dia menempuh jalan mandiri tanpa latar pendidikan film formal.

Baca Juga:  Di Tengah Rumor Bursa Transfer, Pieter Optimistis dengan Pemain Muda Borneo FC

“Saya bukan lulusan sekolah film mahal. Semua saya jalani lewat proses panjang dan kegagalan,” ungkapnya.

Johansyah menilai genre horor menjadi medium yang efektif untuk memperkenalkan budaya lokal Kalimantan ke publik luas, meski penuh risiko.

“Ini taruhan, termasuk penggunaan dialek dan bahasa lokal. Tapi saya yakin masyarakat Kalimantan akan menjadi penonton pertama yang menerima,” katanya.

Terpisah, Sejarawan M. Sarip menutup diskusi dengan menilai kekuatan utama Kuyank terletak pada kejujuran budaya Banjar yang diangkat.

“Banjar bukan hanya milik Kalimantan Selatan. Bahkan semboyan Ruhui Rahayu di lambang Kaltim berasal dari bahasa Banjar,” ujarnya.

Menurut Sarip, keterlibatan sutradara yang memiliki akar budaya Banjar membuat film ini terasa lebih otentik.

“Kunci keberhasilan Bang Johansyah ada pada dua hal, yakni profesionalisme dan sikap egaliter,” pungkasnya. (Din/Fch/Klausa)

Bagikan

.

.

Search
logo klausa.co

Afiliasi :

PT Klausa Media Indonesia

copyrightâ“‘ | 2021 klausa.co