Klausa.co

Tak Sekadar Glorifikasi, Buku Sejarah Ini Bongkar Cara Ulama Menghidupkan Islam di Kaltim

Dua penulis buku Sejarah Islam di Kalimantan Timur. Prof Abdunnur (kiri) dan Muhammad Sarip (kanan) usai sesi peluncuran dan bedah buku. (Fch/Klausa)

Bagikan

Samarinda, Klausa.co – Upaya merangkum perjalanan panjang Islam di Kalimantan Timur (Kaltim) akhirnya menemukan bentuknya. Prof Abdunnur bersama sejarawan publik Muhammad Sarip resmi meluncurkan buku berjudul Sejarah Islam di Kalimantan Timur: Empat Setengah Abad Jaringan Dakwah, Ulama, dan Peradaban dari Kerajaan hingga Republik. Peluncuran dan bedah buku itu digelar di Perpustakaan Kota Samarinda, pada Kamis (2/4/2026).

Abdunnur, yang juga Rektor Universitas Mulawarman (Unmul), menyebut kehadiran buku ini berangkat dari inisiatif bersama. Dia menegaskan, peran tim dari Sarip cukup dominan dalam menggagas karya tersebut.

“Beliau yang menjadi inisiator utama. Kami kemudian menyusun bersama hingga buku ini bisa hadir,” ujarnya.

Menurut Abdunnur, buku ini disiapkan sebagai rujukan terbuka bagi publik. Tidak hanya untuk kalangan akademik, tetapi juga masyarakat luas yang ingin memahami sejarah Islam di Kaltim secara utuh.

Guru Besar di bidang Ekologi Perairan itu mengungkapkan, selama ini catatan sejarah masih tersebar dan belum terkonsolidasi dalam satu buku komprehensif. Karena itu, karya ini diharapkan menjadi pijakan awal.

Baca Juga:  Performa Atlet Kaltim Dipoles Teknologi, Dispora Gandeng Kampus dan Pakar

“Ini bukan hanya catatan sejarah, tapi juga inspirasi bagaimana generasi sekarang membaca masa lalu,” katanya.

Kehadiran buku tersebut juga berkaitan dengan peran Unmul dalam Konsorsium Universitas Borneo (KUUB), forum perguruan tinggi lintas negara yang terdiri Indonesia, Malaysia, dan Brunei, yang fokus mengkaji perkembangan Islam di Pulau Kalimantan. Rencananya, buku ini akan menjadi salah satu referensi utama dalam konferensi KUUB yang digelar di Samarinda pada Juni 2026 mendatang.

Proses penyusunannya terbilang singkat. Abdunnur menyebut, inisiasi dimulai sekitar tiga bulan. Tim penulis mengumpulkan berbagai sumber, mulai dari wawancara dengan keturunan ulama, data historis, hingga dokumentasi foto.

Di sisi lain, Muhammad Sarip menyoroti kekosongan literatur serupa dalam dua hingga tiga dekade terakhir. Menurutnya, tulisan tentang sejarah Islam di Bumi Etam dalam dekade terakhir memang ada, tetapi tersebar dalam bentuk artikel yang parsial.

Baca Juga:  Unmul Terapkan PJJ dan Skema Kerja Hybrid, Rektor: Tetap Jaga Mutu Pembelajaran

“Sudah saatnya ada buku baru yang merangkum perjalanan sekitar 450 tahun, dari 1575 hingga 2025,” jelasnya.

Namun, Sarip menegaskan buku ini tidak dimaksudkan untuk sekadar glorifikasi masa lalu. Da ingin menghadirkan pesan yang lebih relevan. Menurutnya, para ulama terdahulu menjadikan agama sebagai sarana membangun harmoni sosial, bukan alat untuk kepentingan pribadi.

“Para ulama terdahulu menghidupkan agama, bukan hidup dari agama,” tegasnya.

Ia juga menyinggung perubahan konteks zaman. Jika dahulu para tokoh cenderung menghindari perebutan kekuasaan, kini fenomena itu justru sering terjadi. Selain itu, buku ini mencoba menyeimbangkan pendekatan historiografi. Banyak catatan lama berbasis tutur lisan yang kerap berujung pada kisah mitologis.

Baca Juga:  Peristiwa Sanga-Sanga 27 Januari 1947, Jejak Perjuangan Merebut Kemerdekaan di Kalimantan Timur

Sarip mencontohkan kisah Tuanku Tunggang Parangan yang disebut datang ke Kutai Kartanegara dengan menunggangi hiu parang. Dalam pendekatan ilmiah, narasi tersebut dapat ditafsirkan sebagai perjalanan menggunakan kapal dengan haluan panjang.

Pendekatan semacam ini, kata dia, sebenarnya sudah pernah dilakukan oleh peneliti Belanda, Constantinus Alting Mees, dalam bukunya De Kroniek van Koetai (1935). Namun, yang berkembang di masyarakat justru sisi mitologisnya. Karena itu, buku ini mencoba menjembatani antara cerita rakyat dan analisis ilmiah.

Meski begitu, para penulis tidak menutup mata terhadap kekurangan. Sarip mengakui masih ada potensi kesalahan teknis seperti typo atau ketidaktepatan data. Peluncuran dan bedah buku ini, kata dia, justru menjadi ruang untuk menerima kritik.

“Kami tidak berharap pujian. Kami justru menunggu masukan. Buku ini bukan kitab suci, jadi wajar kalau ada kekeliruan,” ujarnya. (Fch2/Klausa)

Bagikan

.

.

Search
logo klausa.co

Afiliasi :

PT Klausa Media Indonesia

copyrightâ“‘ | 2021 klausa.co