Lompat ke konten utama

Klausa.co

BRIDA Kaltim Jaga Target 30 Riset per Tahun Meski Anggaran Turun, Perkuat Kolaborasi dengan Kampus

Kepala BRIDA Kaltim, Fitriansyah

Bagikan

Samarinda, Klausa.co – Penyusutan anggaran tidak membuat Badan Riset dan Inovasi Daerah Kalimantan Timur (BRIDA Kaltim) mengendurkan target penelitian. Di tengah keterbatasan fiskal, BRIDA memilih mengubah strategi pelaksanaan riset melalui efisiensi metode penelitian dan memperluas kolaborasi pendanaan dengan perguruan tinggi agar produktivitas tetap terjaga.

Kepala BRIDA Kaltim, Fitriansyah, memastikan lembaganya tetap menargetkan menghasilkan sekitar 20 hingga 30 penelitian setiap tahun. Target tersebut dipertahankan meski alokasi anggaran yang dikelola BRIDA mengalami penurunan dibanding beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, salah satu strategi yang kini diperkuat ialah memperbanyak riset kolaboratif dengan perguruan tinggi. Skema tersebut memungkinkan kebutuhan pembiayaan penelitian tidak sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

“Target penelitian tetap kami pertahankan sekitar 20 sampai 30 kegiatan setiap tahun. Sebagian besar sekarang dilakukan melalui skema kolaborasi dengan perguruan tinggi,” kata Fitriansyah, Rabu (22/7/2026).

Efisiensi anggaran juga berdampak pada pola pelaksanaan penelitian di lapangan. Jika sebelumnya pengumpulan data dilakukan di seluruh 10 kabupaten/kota di Kaltim, kini penelitian difokuskan pada sejumlah wilayah yang dinilai representatif sesuai kebutuhan kajian.

Baca Juga:  Anak Tiri Jadi Korban Cabul Ayah Tiri di Samarinda, Pelaku Dibekuk Polisi

Fitriansyah mengakui penyempitan cakupan wilayah dapat memengaruhi hasil penelitian. Namun, penyesuaian metodologi dilakukan agar kualitas riset tetap memenuhi standar ilmiah.

“Kalau dulu penelitian mencakup seluruh kabupaten dan kota, sekarang terpaksa hanya beberapa daerah. Memang ada pengaruh terhadap hasil, tetapi dengan metodologi yang disesuaikan kami berharap kualitas riset tetap terjaga,” ujarnya.

Dia menjelaskan, biaya perjalanan lapangan selama ini menjadi komponen terbesar dalam pelaksanaan penelitian. Di sisi lain, BRIDA juga masih mengalokasikan anggaran untuk pengujian laboratorium karena belum memiliki fasilitas laboratorium sendiri sehingga masih mengandalkan kerja sama dengan perguruan tinggi.

Saat ini, anggaran yang dikelola BRIDA berada di kisaran Rp19 miliar, turun dibanding beberapa tahun lalu yang sempat mencapai sekitar Rp30 miliar. Dari total anggaran tersebut, sebagian besar juga digunakan untuk membiayai kebutuhan operasional pegawai.

Baca Juga:  Kembali ke Pesut Etam, Andy Harjito Siap Tambah Daya Gedor

Meski demikian, BRIDA tidak berencana memangkas jumlah penelitian. Sebaliknya, lembaga itu mulai membuka peluang pembiayaan dari berbagai mitra, termasuk lembaga luar negeri, serta memperluas skema pendanaan bersama dengan perguruan tinggi.

“Misalnya ada penelitian senilai Rp100 juta, sebagian didanai BRIDA dan sebagian lagi oleh perguruan tinggi. Skema seperti ini terus kami dorong agar penelitian tetap berjalan,” jelasnya.

Di luar agenda penelitian, BRIDA juga terlibat dalam penyusunan konsep Museum Budaya Kalimantan yang tengah disiapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Salah satu alternatif lokasi yang sedang dikaji ialah memanfaatkan terminal lama Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Balikpapan. Menurut Fitriansyah, penyusunan konsep harus menjadi tahapan utama sebelum pembangunan fisik dilakukan.

Baca Juga:  Strategi Baru, Hasil Maksimal: Borneo FC Pertahankan Rekor Tak Terkalahkan

Fitriansyah menilai, museum masa depan tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi sejarah, tetapi juga harus mampu menghadirkan pengalaman yang interaktif melalui pemanfaatan teknologi digital, multimedia, serta narasi yang mengangkat kekayaan budaya, gastronomi, ekologi, dan biodiversitas Kalimantan.

“Konsep adalah hal yang akan menjadi roh museum. Kita bisa belajar dari berbagai museum di dunia yang memadukan teknologi modern dengan kekayaan sejarah dan budaya,” tutupnya. (Din/Fch/Klausa)

Bagikan

.

.

Search
logo klausa.co

Afiliasi :

PT Klausa Media Indonesia

copyrightâ“‘ | 2021 klausa.co