Samarinda, Klausa.co – Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Pemkab Kubar) menjadi sorotan publik usai tercatat sebagai salah satu daerah dengan dana mengendap terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Keuangan hingga triwulan III 2025, total dana pemerintah daerah yang tersimpan di bank mencapai Rp234 triliun. Dari jumlah itu, Kubar berada di peringkat ketujuh dengan simpanan mencapai Rp3,2 triliun.
Bupati Kubar, Frederick Edwin menegaskan dana tersebut bukanlah uang yang dibiarkan menganggur. Ia menyebut sebagian besar masih dalam proses penyerapan dan sudah memiliki rencana penggunaan yang jelas.
“Dana endapan sebesar Rp3,2 triliun itu bukan dana yang menganggur. Sekitar Rp2,2 triliun di antaranya merupakan kas aktif daerah di Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) Bankaltimtara yang menunggu waktu penyerapan,” ujarnya saat ditemui di Samarinda, Senin (27/10/2025).
Ia menjelaskan, sekitar Rp1 triliun sisanya merupakan Treasury Deposit Facility (TDF) yang tersimpan di Bank Indonesia (BI). Dana jenis ini, lanjutnya, hanya dapat digunakan pada kondisi tertentu sesuai dengan kebijakan Kementerian Keuangan dan aturan BI.
“Ini bukan deposito, tapi dana TDF yang penggunaannya harus sesuai ketentuan pemerintah pusat,” tegasnya.
Frederick memastikan, dana yang tersimpan tersebut akan dimanfaatkan untuk membiayai sejumlah proyek infrastruktur strategis di Kutai Barat. Sejumlah proyek besar kini tengah berjalan, di antaranya pembangunan Jembatan Aji Tulur Jejangkat (ATJ) yang melintasi Sungai Mahakam dan menghubungkan Kecamatan Melak dengan Mook Manaar Bulatn.
Selain itu, Pemkab Kubar juga mempercepat pembangunan jalan sepanjang 19 kilometer yang menghubungkan Kampung Ombau Asa dan Kampung Mecelew, pembangunan Pelabuhan Royoq, serta Kristen Center yang akan menjadi pusat kegiatan keagamaan.
“Harapan kami, penyerapan anggaran bisa dipercepat karena semua proyek sedang dalam tahap pengerjaan hingga akhir tahun ini,” tutupnya. (Din/Fch/Klausa)















