Samarinda, Klausa.co – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) menjamin ketersediaan bahan pokok penting (bapokting) aman menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah. Meski pasokan melimpah, masyarakat harus menghadapi penyesuaian harga di pasaran yang dipicu oleh membengkaknya biaya distribusi.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (DPPKUKM) Kaltim, Heni Purwaningsih, menjelaskan bahwa lonjakan harga saat ini murni disebabkan oleh faktor logistik, bukan karena kelangkaan barang. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi pemicu utama meningkatnya ongkos kirim ke berbagai daerah di Kaltim.
“Kita sudah tahu harga BBM naik berapa persen. Sedangkan biaya distribusi itu salah satu komponennya adalah biaya bahan bakar. Ini juga sudah disuarakan oleh pedagang maupun distributor,” ujar Heni saat dihubungi melalui telepon, Sabtu (23/5/2026).
Heni menegaskan kembali bahwa rantai pasok dalam kondisi sehat. Penyesuaian harga di tingkat pedagang merupakan dampak logis dari bertambahnya biaya operasional pengiriman.
“Kenaikan ini bukan karena kelangkaan, tapi karena komponen penyusun harga jual salah satunya biaya transportasi,” tegasnya.
Untuk mengantisipasi lonjakan harga yang semakin liar, Pemprov Kaltim mengedukasi para distributor dan pedagang. Mereka diminta mengoptimalkan penggunaan BBM bersubsidi, khususnya solar, agar biaya operasional logistik pangan bisa lebih ditekan.
“Kemarin kami edukasi distributor dan pedagang, kalau terkait kebutuhan umum dan bahan pokok diupayakan menggunakan solar subsidi supaya distribusi tidak terganggu,” kata Heni.
Di sisi lain, pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap komoditas yang memiliki regulasi Harga Eceran Tertinggi (HET), seperti minyak goreng dan beras. Heni memperingatkan para spekulan agar tidak memanfaatkan momentum hari raya untuk meraup keuntungan tidak wajar.
“Kalau terkait HET, semua komoditas yang ada HET-nya itu tidak boleh dijual di atas HET. Itu ketentuannya,” cetusnya.
Bergeser ke komoditas hewani, tantangan terbesar saat ini ada pada sektor daging sapi. Minimnya populasi lokal membuat Kaltim masih harus mendatangkan pasokan dari luar pulau, sehingga harganya sangat sensitif terhadap biaya transportasi laut dan darat.
“Khusus daging sapi, kebutuhan kita memang masih banyak bergantung dari luar daerah. Jadi ada kenaikan, tapi bukan karena barang langka,” ungkap Heni.
Sebagai alternatif penyeimbang, Heni menyarankan masyarakat untuk beralih ke daging beku yang harganya cenderung lebih ramah di kantong dan stabil dibanding daging segar. Kontras dengan daging sapi, pasokan daging ayam justru jauh lebih aman karena ketergantungan pada luar daerah sudah berhasil dipangkas.
“Kalau daging ayam kita sudah sekitar 80 sampai 90 persen bisa dipenuhi dari Kaltim sendiri,” jelasnya.
Secara makro, intervensi pasar yang dilakukan pemprov dinilai cukup berhasil. Indikatornya terlihat dari angka inflasi awal Mei 2026 yang menunjukkan tren penurunan dibanding bulan sebelumnya.
“Inflasi awal Mei ini turun dibanding inflasi awal April. Artinya upaya pengendalian harga dan ketersediaan pasokan sudah berjalan sesuai harapan,” ucap Heni optimis.
Kondisi ini tecermin langsung di lantai pasar tradisional. Di Pasar Segiri Samarinda, geliat belanja menjelang Iduladha tetap semarak meski ada dinamika harga. Boy, salah seorang pedagang, mengaku bersyukur karena dagangannya tetap diburu konsumen.
“Alhamdulillah, stok tersedia menjelang Iduladha, meski harga agak naik, pengunjung sangat mengerti. Dan syukurnya, lapak saya tidak pernah sepi,” pungkas Boy. (Din/Fch/Klausa)

















