Klausa.co

Belajar Pantun dari Hal Sederhana, Taman Budaya Kaltim Ajak Anak Muda Lestarikan Tradisi Lisan

Budayawan Kaltim, Hamdani.

Bagikan

Samarinda, Klausa.co – Taman Budaya Kalimantan Timur (Kaltim) membuka ruang pelestarian budaya lokal lewat pelatihan seni berpantun di Gedung Bahimung, Selasa (19/5/2026). Kegiatan itu menghadirkan budayawan Kaltim, Hamdani, yang membagikan cara praktis agar masyarakat, terutama generasi muda, bisa berpantun secara cepat dan spontan.

Dalam pelatihan tersebut, Hamdani menekankan bahwa pantun bukan sekadar permainan rima. Menurutnya, pantun merupakan media komunikasi yang ringan, namun mampu menyampaikan pesan dengan cara yang lebih dekat dan berkesan.

Dia menyebut, langkah paling mudah untuk belajar pantun adalah memulai dari hal-hal sederhana yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. Tema seperti buah-buahan, pepohonan, hingga nama jalan dinilai efektif untuk melatih spontanitas seseorang saat merangkai kata.

Baca Juga:  Nidya Listiyono Minta Bankaltimtara dan Wali Kota Samarinda Berkomunikasi Soal RKUD

“Yang paling mudah itu dari buah-buahan, pohon-pohonan, kemudian jalan-jalan. Itu spontan, jadi cepat kita membuatnya,” kata Hamdani.

Meski terlihat sederhana, Hamdani mengingatkan bahwa pantun yang baik tetap membutuhkan kekayaan kosakata dan pengalaman batin. Karena itu, kemampuan berpantun disebut tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan membaca dan memperluas literasi.

Menurut dia, seseorang akan kesulitan merangkai pantun yang kuat apabila minim referensi dan pengalaman emosional.

“Bagaimana menulis pantun yang baik kalau tidak pernah membaca pantun? Bagaimana menulis tentang perasaan jatuh cinta kalau tidak punya kekayaan batin?” ujarnya.

Melalui pelatihan tersebut, Hamdani berharap peserta tidak hanya terampil berpantun, tetapi juga memahami fungsi pantun sebagai sarana mencairkan suasana dan membangun kedekatan dalam berbagai situasi, termasuk kegiatan resmi. Hamdani menegaskan, pantun merupakan bagian dari warisan budaya lisan Indonesia yang harus terus dijaga keberlangsungannya oleh generasi muda.

Baca Juga:  Sekolah Inklusi di Kaltim, Mimpi Besar Ananda Emira Moeis untuk Pendidikan Setara

Sebagai informasi, pantun sendiri telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda milik Indonesia dan Malaysia pada 2020. Pengakuan itu, kata Hamdani, menjadi pengingat bahwa tradisi lisan tidak boleh berhenti diwariskan.

“Ini tanggung jawab bersama untuk terus melestarikannya,” tutupnya. (Din/Fch/Klausa)

Bagikan

.

.

Search
logo klausa.co

Afiliasi :

PT Klausa Media Indonesia

copyrightⓑ | 2021 klausa.co