Klausa.co

Perempuan Kaltim Dulu dan Kini, Diskusi Kartini 2026 Soroti Ketimpangan dan Rasa Aman

Suasana Diskusi Publik Hari Kartini 2026 di Aula Perpustakaan Kota Samarinda. (Din/Klausa)

Bagikan

Samarinda, Klausa.co – Diskusi publik dalam rangka Hari Kartini 2026 yang digelar di Aula Perpustakaan Kota Samarinda, Sabtu (25/4/2026), mengangkat tema “Perempuan Kaltim Dulu dan Kini: Setara belum? Aman belum?”. Forum yang berlangsung santai tanpa seremoni pembukaan itu menjadi ruang terbuka bagi peserta untuk menyampaikan pandangan secara egaliter dan bebas.

Penulis biografi Dr. Meiliana, Inni Indarpuri, membuka diskusi dengan refleksi tentang posisi perempuan Kalimantan Timur (Kaltim) dari masa ke masa. Ia menilai, hingga kini masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk mencapai kesetaraan.

“Kalau diukur perempuan Kaltim dulu dengan sekarang, saya menilai belum. Masih banyak PR buat kita,” ujarnya.

Ia mencontohkan, masih kuatnya pelabelan terhadap perempuan dalam peran domestik. Menurutnya, pilihan perempuan untuk tidak melakukan pekerjaan tertentu tidak seharusnya dipandang sebagai bentuk pembangkangan.

“Wanita pasti menolak memperbaiki genteng, bukan berarti harus dicap pemberontak saat tidak melakukan sesuatu yang bukan semestinya,” katanya.

Baca Juga:  IKN Nusantara: Menata Masa Depan, Mengangkat SDM Lokal

Ia juga menyoroti bahwa kasus kekerasan dalam rumah tangga tidak selalu menempatkan perempuan sebagai korban, sebab ada pula laki-laki yang melapor sebagai korban.

Sementara itu, Alisya Anastasya dari The Femme Lit Society Bookclub mengulas perkembangan diskursus feminisme di era modern, termasuk fenomena trophy wife, pembagian peran domestik, hingga isu cancel culture. Ia menilai, pemaknaan terhadap peran perempuan terus berubah mengikuti zaman.

“Banyak diskursus terkait trophy wife, juga laki-laki yang bekerja sebagai juru masak. Dulu memasak lebih dianggap tugas perempuan, tapi makna itu berubah,” jelasnya.

Ia menambahkan, tidak semua perempuan memandang pekerjaan rumah sebagai beban, karena faktor pendidikan keluarga turut membentuk perspektif tersebut.

“Sekarang banyak ruang untuk saling berbagi cara pandang antara laki-laki dan perempuan, sehingga kita bisa tahu apa yang perlu dibenahi,” ujarnya.

Baca Juga:  Stadion Palaran Seperti Tempat Menggembala Sapi di Jerman

Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Samarinda, Inui Nurhikmah, turut membagikan refleksi personal tentang pengaruh budaya patriarki dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyoroti bagaimana kerja domestik perempuan sering kali tidak tercatat sebagai kontribusi ekonomi.

“Ibu saya punya 12 anak, bekerja sebagai ibu dengan anak sebanyak itu, tapi tidak tercatat peran kerjanya di mana pun,” ungkapnya.

Inui juga menceritakan bagaimana nilai-nilai budaya membentuk relasi dalam rumah tangga, termasuk kebiasaan penghormatan terhadap laki-laki yang dia alami sejak kecil.

Namun, pengalaman berinteraksi dengan budaya lain membuatnya merefleksikan kembali nilai tersebut.

“Saya pernah ditanya oleh seorang bule soal sikap istri yang menunduk saat lewat di depan saya. Dari situ saya mulai bertanya ke istri, nyaman tidak. Sejak itu, saya juga mulai menunduk saat lewat di depan istri sebagai bentuk penghormatan yang sama,” tuturnya.

Sejarawan publik, Muhammad Sarip menutup diskusi dengan perspektif historis mengenai posisi perempuan di Bumi Etam. Dia menegaskan bahwa perempuan selalu memiliki ruang dan peran dalam masyarakat, baik di masa lalu maupun sekarang.

Baca Juga:  Viral, Video Kamar Kos di Samarinda Dipenuhi Botol Berisi Air Kencing

“Tidak ada istilah perempuan berdiri di luar, semua perempuan punya tempat yang sama,” tegasnya.

Sarip juga menekankan pentingnya ruang kritik yang sehat, termasuk dalam dunia literasi dan penulisan.

“Karya itu bukan untuk diglorifikasi, tapi harus dikritik agar penulis terus berkembang,” tambahnya.

Menanggapi pertanyaan peserta terkait rasa aman bagi perempuan, Sarip mengakui bahwa isu tersebut memerlukan pembahasan lebih mendalam. Ia membuka kemungkinan adanya diskusi lanjutan untuk mengupas persoalan tersebut secara khusus.

Diskusi ini tidak hanya menyoroti persoalan kesetaraan, tetapi juga menegaskan bahwa rasa aman bagi perempuan masih menjadi isu krusial yang perlu terus diperjuangkan di Kalimantan Timur.

“Mungkin akan ada diskusi lanjutan untuk mendalami isu ini,” pungkasnya. (Din/Fch/Klausa)

Bagikan

.

.

Search
logo klausa.co

Afiliasi :

PT Klausa Media Indonesia

copyrightⓑ | 2021 klausa.co