Samarinda, Klausa.co – Perubahan peta pemilih mulai mendorong Partai Amanat Nasional (PAN) Samarinda mengubah cara menjalankan kerja politik. Generasi muda yang semakin akrab dengan media sosial membuat ruang digital dipandang sebagai arena penting untuk membangun komunikasi politik.
Ketua DPD PAN Samarinda, Suparno, menyebut pendekatan terhadap pemilih muda tidak bisa lagi hanya mengandalkan pertemuan tatap muka. Kader partai kini diarahkan untuk menjadikan media sosial sebagai bagian dari aktivitas politik mereka.
“Hari ini seluruh kader PAN diwajibkan aktif bermain media sosial,” ujar Suparno saat ditemui di sela Rakerda I PAN Samarinda di Hotel Amaris Samarinda, Selasa (18/8/2026).
Menurut Suparno, langkah tersebut merupakan bentuk penyesuaian partai terhadap perubahan pola komunikasi masyarakat. Media sosial dinilai memiliki jangkauan yang lebih luas, khususnya dalam menjangkau pemilih dari kalangan Generasi Z.
Namun, transformasi menuju politik digital bukan tanpa tantangan. Suparno mengakui sebagian kader senior masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan pola komunikasi yang berkembang di media sosial.
“Kadang kami yang sudah tua ini memang agak bingung. Tapi arahan dari pusat tetap kami jalankan,” katanya.
Untuk memperkuat kerja tersebut, PAN Samarinda juga menyiapkan tim yang secara khusus menangani aktivitas di ruang digital. Kehadiran tim ini diharapkan membuat komunikasi politik PAN lebih terarah sekaligus memperbesar peluang partai menjangkau kelompok pemilih muda.
Meski mulai menggarap ruang digital secara serius, Suparno memastikan PAN tidak meninggalkan kerja politik konvensional. Konsolidasi di lapangan tetap menjadi bagian penting dari agenda partai, termasuk memperkuat struktur organisasi hingga tingkat kelurahan.
Di tengah persiapan tersebut, PAN Samarinda juga masih mencermati perkembangan terkait mekanisme pemilu berikutnya. Persoalan sistem pemilu menjadi salah satu pembahasan yang ikut mengemuka dalam Rakerda I PAN Samarinda.
Suparno menilai ketidakpastian mengenai format pemilu tidak boleh membuat partai menunda persiapan. PAN, kata dia, harus mampu menyesuaikan diri dengan aturan dan sistem yang nantinya ditetapkan.
“Partai Amanat Nasional optimistis dan siap beradaptasi dengan mekanisme pemilu apa pun yang nantinya ditetapkan,” pungkasnya. (Din/Fch/Klausa)
















