Lompat ke konten utama

Klausa.co

DPRD Samarinda Dorong Konsep Baru Pasar Pagi agar Kembali Hidup

Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi. (Klausa)

Bagikan

Samarinda, Klausa.co – Wajah baru Pasar Pagi Samarinda belum sepenuhnya mampu menghidupkan aktivitas perdagangan. Sejumlah kios masih kosong dan geliat jual beli belum sesuai harapan. Kondisi ini membuat DPRD Kota Samarinda mendorong evaluasi konsep pasar agar fungsi ekonominya benar-benar berjalan dan sesuai dengan karakter masyarakat.

Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, mengatakan pembenahan Pasar Pagi tidak cukup hanya mengandalkan tampilan bangunan yang lebih modern. Menurut dia, desain yang baik harus diikuti konsep pemanfaatan ruang yang mampu mendatangkan pedagang sekaligus menarik masyarakat untuk berbelanja.

“Secara estetika memang sudah oke, tetapi dari sisi fungsi belum berjalan. Harapannya Pasar Pagi menjadi penggerak ekonomi, namun sekarang fungsi itu belum terlihat,” ujar Iswandi, belum lama ini.

Atas kondisi tersebut, DPRD bersama organisasi perangkat daerah (OPD) berencana kembali membahas formula yang tepat untuk menghidupkan kawasan perdagangan tersebut. Salah satu gagasan yang muncul ialah melakukan kajian sekaligus rebranding terhadap beberapa ruang di dalam Pasar Pagi.

Baca Juga:  Target Kemenangan 90 Persen, Tim Rudy-Seno Optimis Menangi Pilgub Kaltim

Namun, Iswandi menegaskan perubahan konsep tidak boleh diputuskan hanya berdasarkan perspektif pemerintah. DPRD akan membuka ruang diskusi dengan berbagai pihak melalui forum group discussion (FGD), mulai dari akademisi, praktisi, komunitas hingga pelaku ekonomi kreatif.

“Kami ingin mengundang akademisi, praktisi, komunitas penggiat kegiatan, dan pihak lain yang bisa memberikan pemikiran serta solusi. Tujuannya mencari cara agar Pasar Pagi bisa kembali hidup,” katanya.

Kajian tersebut dinilai penting agar perubahan fungsi ruang tidak dilakukan tanpa pertimbangan. Menurut Iswandi, konsep yang dipilih harus menyesuaikan kondisi bangunan, karakter masyarakat Samarinda, serta kebutuhan pedagang.

Dia bahkan membuka peluang adanya perubahan peruntukan sejumlah area yang sebelumnya disiapkan untuk pedagang basah. Ruang yang belum terisi itu dapat dipertimbangkan untuk jenis usaha lain yang dinilai lebih potensial. Sementara lantai paling atas juga berpeluang dikembangkan sebagai kawasan kuliner atau kafe untuk menciptakan daya tarik baru bagi pengunjung.

Baca Juga:  Aksi Damai Dihadang, Koalisi GERAM TNI Soroti Dugaan Represi Aparat di Balikpapan

“Dengan kondisi bangunan seperti sekarang dan kultur masyarakat Samarinda, kita harus melihat apa yang benar-benar cocok. Tidak bisa dipaksakan tetap menjual jenis dagangan yang sama,” jelasnya.

Persoalan pedagang basah menjadi salah satu aspek yang perlu dikaji. Selain ruang yang belum terisi, pola masyarakat ketika berbelanja di pasar tradisional juga dianggap belum sepenuhnya terakomodasi dalam desain Pasar Pagi saat ini.

Iswandi menilai konsumen pasar tradisional cenderung mengutamakan kepraktisan. Mereka terbiasa berhenti, memilih barang, dan melakukan transaksi dengan cepat. Sementara di Pasar Pagi, pengunjung harus memasuki bangunan dan menuju lantai tertentu untuk mendapatkan barang yang dicari.

“Kalau kebiasaan di pasar tradisional, orang ingin belanja dari atas motor dan membayar dari atas motor. Sekarang pengunjung harus naik tangga. Pola seperti ini yang harus kita pikirkan kembali dalam konsepnya,” tuturnya.

Baca Juga:  Andi Harun Jadi Pemateri, Pengendalian Banjir dan Sampah Jadi Materi Kuliah Perdana 1.700 Mahasiswa Baru UINSI Samarinda

Meski demikian, pembahasan mengenai rebranding Pasar Pagi masih berada pada tahap awal. DPRD akan melibatkan Pemerintah Kota Samarinda, termasuk wali kota, dalam pembicaraan berikutnya sebelum menentukan konsep yang akan diterapkan.

Pedagang juga akan menjadi bagian penting dalam proses evaluasi. Masukan dari mereka diperlukan untuk memastikan gagasan yang disusun tidak berhenti sebagai konsep, tetapi dapat diterapkan sesuai kondisi di lapangan.

“Pedagang juga harus dilibatkan. Dari mereka pasti ada saran. Begitu pula praktisi, akademisi, dan penggiat ekonomi kreatif. Semua perlu duduk bersama,” ujarnya.

Iswandi berharap pembahasan ke depan tidak lagi berkutat pada persoalan lama. Ia menilai energi pemerintah, DPRD, dan para pemangku kepentingan sebaiknya diarahkan untuk menemukan solusi yang membuat Pasar Pagi kembali memiliki daya tarik sekaligus menjalankan fungsi ekonominya.

“Intinya kita harus mencari solusi. Tidak perlu lagi saling menyalahkan karena kalau terus menyalahkan, tidak akan ada habisnya,” pungkasnya. (Din/Fch/ADV/DPRD Samarinda)

Bagikan

.

.

Search
logo klausa.co

Afiliasi :

PT Klausa Media Indonesia

copyrightⓑ | 2021 klausa.co