Klausa.co

Pengamat Unmul Minta Kelas Menengah Terapkan Gaya Hidup Hemat, Polisi Awasi SPBU Pascakenaikan Pertamax

Antrean konsumen di SPBU Jl. Kesuma Bangsa, Samarinda.

Bagikan

Samarinda, Klausa.co – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax mendorong sebagian masyarakat beralih ke Pertalite. Di sejumlah SPBU, antrean kendaraan terlihat lebih panjang karena pengendara memilih BBM subsidi untuk menekan pengeluaran.

Pengamat Ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul), Khairil Anwar, menilai kondisi ini menjadi momentum bagi masyarakat kelas menengah untuk menyesuaikan pola konsumsi dan lebih bijak mengelola keuangan.

“Masyarakat kelas menengah ke atas yang merupakan konsumen utama Pertamax sudah saatnya mengurangi pengeluaran konsumtif yang bersifat sekadar gaya hidup,” ujarnya, Sabtu, (13/6/2025).

Menurut Khairil, pemerintah tidak memiliki banyak pilihan dalam kebijakan penyesuaian harga BBM, mengingat keterbatasan fiskal dan posisi Indonesia yang tidak lagi menjadi negara eksportir minyak.

Baca Juga:  Potensi Wisata Melimpah, Tapi Jalan Rusak Masih Jadi Penghambat Pariwisata Kaltim

Meski harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, ia menilai masyarakat dan dunia usaha saat ini relatif lebih siap menghadapi tekanan ekonomi dibandingkan beberapa tahun lalu.

Khairil menambahkan, dampak kenaikan Pertamax lebih banyak dirasakan pada biaya mobilitas pribadi dan tidak sebesar dampak kenaikan solar yang berpengaruh langsung terhadap sektor logistik serta harga barang.

Dia juga mendorong pemerintah segera menyalurkan bantalan sosial guna menjaga daya beli masyarakat. Selain itu, edukasi mengenai cara menekan biaya operasional kendaraan dinilai perlu diperkuat.

Di sisi lain, meningkatnya antrean di SPBU turut menjadi perhatian aparat kepolisian. Pasalnya, kondisi tersebut berpotensi dimanfaatkan oknum tertentu untuk melakukan pelanggaran terkait distribusi BBM.

Baca Juga:  Rumah Sakit Tolak Pasien dengan Alasan BPJS, Komisi IV: Jangan Korbankan Nyawa Karena Teknis

Kasat Reskrim Polresta Samarinda, Kompol Rahmat Aribowo, mengatakan pihaknya akan melakukan pemantauan di sejumlah SPBU yang dianggap rawan.

“Memang biasanya banyak yang memanfaatkan situasi ini, dan kami nanti pasti ada tim monitoring terkait dengan dampak kenaikan BBM ini,” katanya.

Menurut Rahmat, pengawasan dilakukan untuk memastikan tidak ada praktik yang melanggar aturan dalam penyaluran BBM, khususnya BBM subsidi yang saat ini mengalami peningkatan permintaan.

“Pasti akan dilakukan pengawasan apakah ada pelanggaran atau tidak di situ. Yang jelas kami tetap pantau terus setiap harinya,” pungkasnya. (Din/Fch/Klausa)

Bagikan

.

.

Search
logo klausa.co

Afiliasi :

PT Klausa Media Indonesia

copyrightâ“‘ | 2021 klausa.co