Samarinda, Klausa.co – Jumlah penumpang di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan tercatat menurun cukup tajam dalam beberapa bulan terakhir. Jika sebelumnya bandara tersebut mampu melayani sekitar 14 ribu hingga 15 ribu penumpang per hari, kini angkanya hanya berkisar 9 ribu sampai 11 ribu penumpang setiap hari.
General Manager Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan, R. Iwan Winaya Mahdar, mengatakan penurunan tersebut tidak terlepas dari kenaikan harga tiket pesawat yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, melonjaknya harga bahan bakar pesawat atau avtur menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan tarif penerbangan.
Dia mencontohkan rute Balikpapan-Jakarta yang selama ini menjadi salah satu jalur penerbangan tersibuk. Jika sebelumnya tiket penerbangan untuk rute tersebut berada di kisaran Rp1,1 juta per orang, kini harganya mencapai Rp1,7 juta hingga Rp2 juta.
“Kenaikan rata-rata mencapai Rp700 ribu sampai Rp800 ribu per tiket,” kata Iwan saat menjadi pembicara dalam diskusi mengenai sektor penerbangan Kalimantan Timur di tengah pelemahan nilai tukar rupiah, Sabtu (13/6/2026).
Kondisi serupa juga terjadi pada sejumlah rute favorit lainnya, seperti Balikpapan-Surabaya dan Balikpapan-Yogyakarta. Kenaikan tarif membuat sebagian masyarakat mulai mempertimbangkan moda transportasi alternatif yang lebih terjangkau.
Menurut Iwan, saat ini pengguna jasa penerbangan masih didominasi kalangan pelaku perjalanan dinas serta pekerja yang memiliki mobilitas tinggi menuju maupun keluar dari Balikpapan. Sementara masyarakat umum mulai mengurangi frekuensi perjalanan udara akibat tingginya biaya yang harus dikeluarkan.
Dampak lain yang mulai terlihat adalah meningkatnya jumlah pengguna transportasi laut. Berdasarkan informasi yang diterima pihak bandara, sejumlah pelabuhan mengalami kenaikan jumlah penumpang sekitar 30 hingga 40 persen dalam periode yang sama.
Meski demikian, pihak bandara menegaskan tidak memiliki kewenangan untuk mengatur harga tiket penerbangan. Penetapan tarif sepenuhnya menjadi kebijakan masing-masing maskapai.
“Penentuan harga tiket merupakan kewenangan maskapai. Dari sisi bandara kami tidak memiliki kendali terhadap harga tiket tersebut,” ujarnya.
Dia menjelaskan, avtur menjadi komponen biaya terbesar dalam operasional penerbangan dengan kontribusi sekitar 40 persen terhadap struktur biaya maskapai. Kenaikan harga avtur yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir dinilai cukup membebani industri penerbangan.
Data yang dipaparkan menunjukkan harga avtur pada Maret 2026 berada di angka Rp15.248,10 per liter. Angka tersebut kemudian melonjak menjadi Rp28.949,13 per liter pada Mei 2026 sebelum sedikit turun menjadi Rp25.966,29 per liter pada Juni 2026.
Meski jumlah penumpang mengalami penurunan, manajemen Bandara SAMS Sepinggan tetap optimistis target pergerakan penumpang sepanjang 2026 dapat tercapai. Hingga akhir tahun, bandara menargetkan total pergerakan penumpang mencapai 5,3 juta orang.
Iwan berharap peningkatan mobilitas masyarakat dapat didorong melalui penyelenggaraan lebih banyak kegiatan berskala nasional maupun internasional di Kalimantan Timur, sehingga mampu meningkatkan arus kunjungan ke daerah dan mendukung pemulihan sektor penerbangan.
“Harapannya semakin banyak agenda nasional maupun internasional yang digelar di Kaltim sehingga mobilitas masyarakat dan kunjungan ke daerah ikut meningkat,” pungkasnya. (Din/Fch/Klausa)



















