Klausa.co

Merasa Sistem Tak Adil, Generasi Muda Samarinda Disebut Mulai Melirik Karier di Luar Negeri

Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar. (Klausa)

Bagikan

Samarinda, Klausa.co – Fenomena meningkatnya minat generasi muda bekerja di luar negeri dinilai bukan sekadar tren sesaat. DPRD Kota Samarinda melihat kondisi itu sebagai tanda adanya persoalan mendasar dalam sistem ketenagakerjaan di Indonesia, mulai dari sempitnya akses kerja hingga menurunnya rasa percaya terhadap mekanisme rekrutmen yang dianggap belum adil.

Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar, mengatakan perkembangan teknologi digital membuat generasi muda semakin mudah mengakses informasi peluang kerja di berbagai negara. Situasi itu membuat mereka mampu membandingkan standar kesejahteraan, jenjang karier, hingga budaya kerja secara global.

“Anak muda sekarang tidak lagi berpikir lokal. Mereka membandingkan peluang secara global, dan itu membentuk ekspektasi baru terhadap masa depan mereka,” ujar Anhar, pada Senin (11/5/2026).

Menurutnya, tingginya minat bekerja di luar negeri juga dipicu kondisi pasar kerja dalam negeri yang belum memberikan rasa aman bagi generasi muda. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) serta terbatasnya lapangan kerja yang dianggap layak menjadi alasan banyak anak muda mulai melirik peluang di negara lain.

Baca Juga:  Joha Fajal Soroti Masalah Data Pemilih di Samarinda, Apresiasi Kinerja dan Inovasi Disdukcapil

Di sisi lain, muncul pula anggapan bahwa akses terhadap pekerjaan strategis belum sepenuhnya ditentukan oleh kompetensi. Persepsi itu, kata Anhar, membuat sebagian generasi muda merasa peluang kerja tidak terbuka secara setara.

“Banyak yang merasa peluang itu tidak terbuka secara adil. Bukan soal kemampuan, tapi soal siapa yang punya akses,” katanya.

Dia menilai kondisi tersebut dapat berdampak lebih jauh jika tidak segera dibenahi. Ketika ruang berkembang di dalam negeri dianggap sempit dan tidak transparan, generasi muda berpotensi memilih membangun karier di luar negeri. Situasi itu dikhawatirkan memicu brain drain atau keluarnya sumber daya manusia potensial dari Indonesia.

“Kalau ruang di dalam negeri terasa sempit dan tidak adil, wajar kalau mereka mencari tempat yang dianggap lebih menghargai kemampuan,” tegasnya.

Baca Juga:  Orangutan Raksasa di Kutai Timur, Fakta atau Ilusi Kamera?

Karena itu, DPRD Samarinda mendorong pemerintah untuk memperbaiki ekosistem ketenagakerjaan secara menyeluruh. Transparansi dalam proses rekrutmen dan kesempatan kerja yang lebih terbuka dinilai menjadi langkah penting untuk mengembalikan kepercayaan generasi muda terhadap sistem di dalam negeri.

“Kalau kita ingin mereka tetap percaya dan berkontribusi di dalam negeri, maka sistemnya harus adil dan terbuka. Itu kuncinya,” tutup Anhar. (Din/Fch/ADV/DPRD Samarinda)

Bagikan

.

.

Search
logo klausa.co

Afiliasi :

PT Klausa Media Indonesia

copyrightâ“‘ | 2021 klausa.co