Lompat ke konten utama

Klausa.co

Yayasan Mitra Hijau Angkat Kisah Warga Kaltim dalam Film The Last Coal dan Komik Transisi Energi

Yayasan Mitra Hijau bersama kontributor dalam peluncuran perdana Film The Last Coal, di CGV Go Mal Samarinda.

Bagikan

Samarinda, Klausa.co – Isu pertambangan batu bara dan transisi energi di Kalimantan Timur (Kaltim) dikemas Yayasan Mitra Hijau melalui dua medium yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, yakni film dokumenter The Last Coal dan komik edukasi Cerita Energi Kita: Benih Hijau di Bawah Langit Kelabu. Keduanya resmi diluncurkan di CGV Go Mall Samarinda, Rabu (9/9/2026).

Peluncuran dua produk komunikasi tersebut menjadi bagian dari strategi komunikasi Program Innovation Regions for a Just Energy Transition (IKI-JET). Program itu dijalankan Yayasan Mitra Hijau bersama mitra konsorsium sejak 2023 di Kaltim dan Sumatera Selatan (Sumsel).

Melalui film dokumenter, Yayasan Mitra Hijau berupaya menghadirkan persoalan energi dan dampak pertambangan batu bara dari sisi pengalaman masyarakat yang bersentuhan langsung dengan aktivitas tersebut.

Executive Producer Film The Last Coal sekaligus Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau, Dicky Edwin Hindarto, mengatakan film tersebut sengaja tidak memberikan naskah kepada narasumber. Setiap orang yang diwawancarai diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman dan perasaannya secara langsung.

Baca Juga:  Warga Tolak Wacana Transmigran Baru di Paser, DPRD Minta Prioritaskan Masyarakat Lokal

“Semua yang diwawancarai dalam film tidak menggunakan naskah. Mereka benar-benar berbicara dari dalam hati berdasarkan apa yang dialami,” kata Dicky.

Menurut dia, pendekatan tersebut membuat The Last Coal tidak sekadar menjadi film mengenai batu bara. Cerita yang ditampilkan justru berangkat dari potongan kehidupan masyarakat Kaltim yang kemudian dirangkai menjadi satu gambaran mengenai persoalan energi dan lingkungan.

“Bagi saya, ini fenomenal dan berkesan. Film ini tidak ada habisnya karena ceritanya masih terjadi dan berasal dari cuplikan kehidupan sehari-hari di Kaltim,” ujarnya.

Dicky menyebut peluncuran film itu juga menghadirkan pengalaman berbeda bagi masyarakat lokal. Sebab, cerita yang ditampilkan berasal dari wilayah mereka sendiri dan menjadikan kehidupan warga Kaltim sebagai bagian utama dari film.

Baca Juga:  Kaltim Siapkan Peta Jalan Menuju Ekonomi Hijau

“Hal baru yang terjadi hari ini adalah warga Kaltim menonton film Kaltim dengan isi film tentang Kaltim,” ucapnya.

Terpisah, produser sekaligus narator The Last Coal, Maria Yuno, mengatakan film tersebut tidak hanya berbicara mengenai keberadaan energi fosil. Pesan yang dibawa juga diarahkan kepada generasi muda dan masyarakat daerah agar mulai melihat peluang green jobs serta memahami pentingnya peralihan menuju energi bersih.

Pesan mengenai perubahan tersebut turut disampaikan melalui medium berbeda dalam komik Cerita Energi Kita: Benih Hijau di Bawah Langit Kelabu. Komik ini mengambil latar Desa Mulawarman, Kutai Kartanegara.

Animator komik, Taurino, menjelaskan tokoh Alya digunakan sebagai karakter utama untuk menggambarkan dampak aktivitas pertambangan terhadap kehidupan masyarakat. Meski mengangkat persoalan tersebut, alur cerita tidak dibangun hanya dengan menghadirkan konflik.

Baca Juga:  Relawan Ambulans Siaga Sambut Pergantian Tahun di Samarinda

“Perubahan tidak harus selalu dimulai dari konflik,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan melalui komik tersebut.

Pandangan serupa disampaikan penulis lulusan Universitas Columbia New York, Al Riski. Ia menilai materi dalam komik dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan isu pertambangan dan transisi energi kepada pembaca muda.

Menurutnya, komik tersebut juga berpotensi menjadi bahan diskusi bagi pembaca berusia di bawah 18 tahun. Penyampaian melalui karakter dan alur cerita dinilai membuat persoalan yang kompleks lebih mudah didekati.

Melalui The Last Coal dan Benih Hijau di Bawah Langit Kelabu, Yayasan Mitra Hijau ingin membawa pembahasan mengenai transisi energi berkeadilan keluar dari ruang kebijakan dan diskusi formal.

“Pesan yang disampaikan pun dibuat sederhana, batu bara pada suatu masa dapat habis, tetapi keberlangsungan bumi sebagai tempat manusia hidup tetap harus dijaga,” kuncinya. (Din/Fch/Klausa)

Bagikan

.

.

Search
logo klausa.co

Afiliasi :

PT Klausa Media Indonesia

copyrightâ“‘ | 2021 klausa.co