Samarinda, Klausa.co – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu aktivitas pendidikan di Kalimantan Timur (Kaltim). Sebanyak 37 SMA/SMK sederajat terdampak, dengan 11.864 siswa harus mengikuti pembelajaran dari rumah akibat kondisi udara yang dinilai tidak memungkinkan untuk kegiatan belajar tatap muka.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim, Rahmat Ramadhan, mengatakan hingga Sabtu, 5 September 2026, terdapat tiga wilayah yang telah melaporkan penerapan pembelajaran dari rumah kepada pihaknya. Ketiga wilayah tersebut yakni Kabupaten Berau, Kabupaten Mahakam Ulu, serta Kecamatan Long Ikis di Kabupaten Paser.
“Jadi, hingga saat ini terdapat tiga daerah yang telah terinformasi menerapkan pembelajaran dari rumah,” kata Rahmat.
Dari sejumlah wilayah tersebut, Berau menjadi daerah yang telah beberapa kali memperpanjang penerapan pembelajaran daring. Kebijakan tersebut dilakukan karena kondisi udara di wilayah tersebut belum menunjukkan perbaikan.
Rahmat menyebut kebijakan serupa juga telah diambil di Kabupaten Kutai Barat menyusul dampak kabut asap. Namun, dalam laporan yang telah diterima Disdikbud Kaltim saat dikonfirmasi, terdapat tiga wilayah yang secara resmi telah terinformasi menerapkan pembelajaran dari rumah.
Penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di Kaltim tidak diberlakukan secara menyeluruh. Disdikbud menyesuaikan kebijakan dengan kondisi masing-masing daerah, terutama tingkat paparan kabut asap dan kualitas udara.
Dengan pendekatan tersebut, sekolah tidak serta-merta menghentikan pembelajaran ketika terjadi karhutla. Peralihan dari pembelajaran tatap muka ke sistem daring dilakukan berdasarkan kondisi udara di wilayah masing-masing.
Salah satu acuannya adalah indikator kualitas udara yang ditetapkan pemerintah pusat. Rahmat mengatakan terdapat ambang batas yang menjadi dasar bagi satuan pendidikan untuk mengalihkan kegiatan belajar ke rumah.
“Dalam surat edaran Kementerian, telah ditetapkan juga indikator kualitas udara. Apabila indeks kualitas udara telah mencapai angka di atas 300, maka proses pembelajaran secara otomatis harus dialihkan menjadi belajar dari rumah,” tegasnya.
Karena kondisi karhutla masih berkembang, Disdikbud Kaltim terus melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota. Pemantauan dilakukan untuk melihat perkembangan kebakaran sekaligus dampaknya terhadap aktivitas pendidikan.
Rahmat menegaskan pola pembelajaran dapat kembali disesuaikan apabila kondisi di lapangan berubah. Wilayah dengan paparan asap yang semakin mengkhawatirkan dapat menerapkan pembelajaran daring atau jarak jauh guna menyesuaikan kegiatan sekolah dengan kondisi udara.
“Kami terus berkoordinasi terkait potensi dan perkembangan karhutla di Kaltim. Sistem pembelajaran akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Apabila sangat terdampak kabut asapnya, akan menggunakan sistem daring atau jarak jauh,” pungkas Rahmat. (Din/Fch/Klausa)










