Lompat ke konten utama

Klausa.co

Kemarau Ancam Panen, Bulog Klaim Stok Beras Kaltim Aman untuk 5-6 Bulan

Gudang BULOG Karang Asam Ulu I.

Bagikan

Samarinda, Klausa.co – Kemarau dan fenomena El Nino mulai menghambat produksi padi di Kalimantan Timur (Kaltim). Kondisi ini turut menekan penyerapan gabah petani oleh Perum Bulog Kanwil Kaltim dan Kaltara yang hingga kini baru mencapai sekitar 15 ribu ton dari target 23 ribu ton.

Kepala Perum Bulog Kanwil Kaltimtara, Musazdin Said, mengatakan kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang membuat realisasi penyerapan gabah belum mencapai target yang ditetapkan.

“Target kita sekitar 23.000 ton, sementara sampai sekarang baru terserap sekitar 15.000 ton,” kata Musazdin, Senin (14/9/2026).

Situasi tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya panen raya di sejumlah wilayah diproyeksikan berlangsung pada akhir September. Namun, berkurangnya ketersediaan air berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman padi, bahkan menyebabkan sebagian lahan mengalami gagal panen atau puso.

Baca Juga:  Pemprov Pilih Optimalkan BUMD Ketimbang Naikkan Pajak Daerah

“Pasti berdampak. Kemarin proyeksinya sebenarnya akan ada panen raya di akhir September ini, tapi kalau banyak padi yang kekurangan air, ini bisa menjadi gagal panen atau puso,” ujarnya.

Dampak kemarau terhadap produksi tersebut membuat Bulog belum dapat memastikan penyerapan gabah akan memenuhi target hingga akhir tahun. Musazdin memperkirakan realisasi akhirnya dapat berada di bawah sasaran awal.

“Target kita mungkin akan turun, enggak 100 persen. Kita belum bisa prediksi lagi,” jelasnya.

Meski produksi dan penyerapan gabah menghadapi tekanan, kondisi cadangan beras pemerintah di wilayah Kaltim dan Kaltara masih terjaga. Saat ini, Bulog menguasai sekitar 15.100 ton beras yang tersimpan di sejumlah gudang di kedua provinsi tersebut.

Baca Juga:  Lahan Rawa, Senjata Mentan Andi Amran Sulaiman Hadapi El Nino

Persediaan itu digunakan untuk memenuhi sejumlah kebutuhan pemerintah dan masyarakat. Di antaranya bantuan pangan, penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk menjaga stabilitas harga serta inflasi, dan pemenuhan cadangan pangan pemerintah daerah.

Dengan jumlah stok yang tersedia, Bulog memperkirakan persediaan beras masih dapat menopang kebutuhan penyaluran untuk sekitar lima hingga enam bulan ke depan. Artinya, tekanan terhadap produksi lokal belum langsung berdampak terhadap ketersediaan beras di masyarakat.

Namun, untuk memastikan stok tetap merata, pasokan dari daerah sentra produksi di luar Kaltim masih diperlukan. Bulog mendatangkan beras dari sejumlah wilayah, termasuk Jawa dan Sulawesi.

“Kita memang masih datangkan dari Jawa dan dari Sulawesi seperti itu, tapi antar-Bulog. Jadi pemerataan stok,” kata Musazdin.

Baca Juga:  Kemarau dan Ancaman El Nino, Karhutla Kaltim Sudah Capai 1.595 Hektare

Di sisi lain, sejumlah daerah di Kaltim, termasuk Samarinda dan Kutai Kartanegara, masih memiliki potensi untuk mendukung penyerapan gabah. Kendati demikian, kondisi cuaca dalam beberapa waktu ke depan akan menjadi faktor penting yang menentukan tingkat produksi sekaligus kemampuan Bulog menyerap hasil panen petani.

Bulog juga memastikan distribusi tetap diarahkan ke wilayah yang membutuhkan. Daerah dengan tantangan akses distribusi, seperti Mahakam Ulu, menjadi salah satu wilayah yang tetap mendapat perhatian dalam penyaluran.

“Kita pastikan stok tetap tersedia dan distribusi berjalan, sehingga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” tutup Musazdin. (Din/Fch/Klausa)

Bagikan

.

.

Search
logo klausa.co

Afiliasi :

PT Klausa Media Indonesia

copyrightâ“‘ | 2021 klausa.co