Samarinda, Klausa.co – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) terus memantapkan pemanfaatan lahan eks Bandara Temindung. Kawasan yang sempat lama tak terpakai itu kini diproyeksikan sebagai ruang publik kreatif yang terbuka, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Melalui program bertajuk Ruang Akhir Pekan, Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim mendorong eks Bandara Temindung menjadi titik temu pelaku seni, komunitas kreatif, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kepala Dispar Kaltim, Ririn Sari Dewi, mengatakan pengaktifan kembali kawasan tersebut merupakan bagian dari upaya menjawab keterbatasan ruang ekspresi publik, terutama bagi generasi muda. Ia menegaskan, program ini tidak dirancang sekadar sebagai hiburan akhir pekan.
“Ruang Akhir Pekan kami rancang sebagai ruang kolaborasi. Di sini seni, budaya, dan edukasi ekonomi kreatif dipertemukan dalam satu ekosistem,” ujar Ririn.
Menurutnya, ruang publik yang dikelola secara konsisten dapat menjadi pemantik tumbuhnya talenta lokal sekaligus mendorong perputaran ekonomi daerah. Karena itu, kegiatan di Temindung dirancang melibatkan banyak pihak, mulai dari komunitas seni hingga pelaku usaha lokal.
Selama pelaksanaan Ruang Akhir Pekan, kawasan eks bandara dipenuhi berbagai aktivitas. Panggung seni dan budaya lokal dikemas dengan sentuhan modern, disandingkan dengan sesi literasi dan edukasi ekonomi kreatif. Di sisi lain, pasar UMKM menghadirkan beragam produk kuliner dan kerajinan khas Kalimantan Timur. Sejumlah kompetisi juga digelar untuk memicu kreativitas anak muda.
Dispar Kaltim mencatat antusiasme pengunjung dan peserta menjadi sinyal positif atas pemanfaatan ruang tersebut. Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kaltim, Awang Khalik, menyebut tingginya partisipasi menjadi dasar kuat untuk menjadikan kegiatan ini sebagai agenda rutin.
“Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti di satu momentum. Ke depan, Ruang Akhir Pekan direncanakan berlangsung setiap bulan,” kata Awang.
Ia menilai keberlanjutan agenda menjadi kunci dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang sehat. Dengan kepastian jadwal, pelaku UMKM dan komunitas seni memiliki ruang yang stabil untuk memasarkan produk, menampilkan karya, sekaligus melakukan evaluasi dan pengembangan. Lebih jauh, pemanfaatan eks Bandara Temindung juga dipandang sebagai strategi membangun identitas baru kawasan yang sebelumnya terabaikan.
“Ini investasi jangka panjang bagi sumber daya manusia. Ketika ruang kreatif dibuka dan dijaga konsistensinya, ide-ide baru akan terus lahir dan berkembang di Kaltim,” pungkasnya. (Din/Fch/Klausa)

















