Samarinda, Klausa.co – Rencana pembangunan empat SMA baru di Kutai Kartanegara (Kaltim) menjadi perhatian Komisi IV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim). Sekretaris Komisi IV, Darlis Pattalongi, mengingatkan bahwa pembangunan fisik bukan satu-satunya indikator kesiapan sebuah sekolah berdiri. Ada kebutuhan lebih mendasar yang harus dipastikan lebih dulu, seperti ketersediaan guru dan kemampuan fiskal daerah.
Darlis menyebut persoalan dalam pembangunan sekolah di Kaltim kerap berulang, contohnya jumlah siswa tidak sebanding dengan kapasitas yang disiapkan pemerintah. Banyak gedung berdiri, tetapi tidak berbanding lurus dengan minat pendaftar.
“Sering kali siswa yang mendaftar sangat sedikit, sehingga sekolah kurang efektif dan justru membebani anggaran,” ujar Darlis, Senin (8/12/2025).
Dia menegaskan, keberadaan bangunan tanpa didukung guru yang memadai dapat memicu masalah lanjutan. Menurutnya, ketersediaan tenaga pendidik wajib dipastikan sebelum proyek dilanjutkan.
“Jangan sampai gedungnya selesai, tapi gurunya tidak ada. Itu hanya akan menambah beban tanpa manfaat,” tegasnya.
Selain aspek sumber daya manusia, ia juga menyinggung kondisi anggaran daerah yang tengah tertekan. Pembangunan sekolah baru membutuhkan biaya besar, mulai dari konstruksi hingga operasional tahunan. Karena itu, Dinas Pendidikan diminta menyusun kajian komprehensif sebelum memutuskan pembangunan empat sekolah tersebut.
Komisi IV berkomitmen mengawal analisis kebutuhan secara menyeluruh, mulai dari proyeksi jumlah peserta didik, kebutuhan guru, sarana pendukung, hingga beban pembiayaan jangka panjang.
“Jangan sampai upaya pemerataan pendidikan justru memunculkan persoalan struktural baru di kemudian hari,” tutup Darlis. (Din/Fch/ADV/DPRD Kaltim)















