Samarinda, Klausa.co – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menghadapi persoalan lain seiring berlanjutnya kondisi kering. Ketersediaan sumber air di sekitar lokasi kebakaran menjadi salah satu kendala yang harus diantisipasi.
Persoalan itu terlihat dalam penanganan karhutla di Pendingin, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Api yang sebelumnya berhasil dipadamkan kembali muncul sehingga tim penanganan harus kembali dikerahkan ke lokasi.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian karena sumber air berpotensi semakin sulit diperoleh jika musim kering berlangsung lebih lama.
Menurut dia, BPBD Kaltim telah berkoordinasi dengan BPBD Kukar untuk menyiapkan alternatif sumber air, termasuk mencari sumber air dalam.
“Ke depan, kami sudah berkoordinasi dengan BPBD Kukar terkait sumber air dalam. Kalau musim hujan, tiga meter saja sudah dapat, apalagi di wilayah rawa. Tapi kalau musim kering panjang seperti ini, digali sampai 100 meter pun belum tentu mendapatkan sumber air,” kata Buyung.
Selain mencari sumber air alternatif, BPBD Kaltim mendorong pengadaan tangki air untuk memperkuat dukungan pemadaman. Fasilitas tersebut juga diharapkan dapat membantu kebutuhan air bagi relawan yang terlibat langsung dalam penanganan karhutla.
Di tengah kondisi yang semakin kering, upaya mendatangkan hujan melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) juga terus diusulkan. Namun, pelaksanaannya tidak dapat dilakukan setiap saat karena sangat bergantung pada kondisi atmosfer, khususnya keberadaan bibit awan yang memenuhi syarat.
Buyung mengatakan keputusan pelaksanaan OMC berada pada kewenangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dengan mempertimbangkan potensi awan yang tersedia.
“Pelaksanaannya tergantung BNPB dan potensi bibit awan yang ada. Kalau sekarang kondisinya kering dan tidak ada awan, disemai pun bisa jadi hanya hujan garam,” ujarnya.
Menurut Buyung, tidak semua awan dapat digunakan untuk penyemaian. Awan harus memiliki kandungan air yang cukup agar proses modifikasi cuaca dapat menghasilkan hujan yang efektif hingga mencapai permukaan tanah.
Karena itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terlebih dahulu menghitung potensi awan sebelum OMC dilakukan.
“BMKG juga menyampaikan, kalau awannya tipis, paling hanya menghasilkan gerimis kecil. Hujannya bisa menguap sebelum sampai ke tanah,” katanya.
Pengajuan OMC untuk sejumlah wilayah di Bumi Etam pun masih dilakukan. Sebelumnya, operasi tersebut telah diterapkan di Kabupaten Berau dan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Sementara wilayah lain yang mengajukan OMC masih menunggu proses penilaian. Kondisi awan menjadi salah satu pertimbangan sebelum operasi tersebut dapat dilaksanakan.
Di luar upaya pemadaman dan modifikasi cuaca, BPBD Kaltim juga memperkuat antisipasi melalui informasi peringatan dini dari BMKG. Setiap informasi mengenai potensi cuaca kering diteruskan kepada BPBD kabupaten dan kota untuk disampaikan kembali hingga tingkat kecamatan dan desa.
Buyung mengatakan langkah tersebut penting dilakukan karena potensi pembentukan awan diperkirakan semakin menurun menjelang akhir Agustus.
“Yang kami upayakan sekarang adalah segera mengajukan, karena berdasarkan prediksi, potensi awan akan berkurang pada akhir Agustus ini,” pungkasnya. (Din/Fch/Klausa)














