Samarinda, Klausa.co – Insiden kapal tongkang bermuatan batu bara kembali menghantam Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu), Samarinda. Peristiwa yang terjadi pada Selasa (23/12/2025) itu terekam dalam video yang beredar luas di media sosial, memperlihatkan bagian depan tongkang rusak parah akibat benturan keras.
Tabrakan berulang ini kembali menyalakan alarm soal keselamatan infrastruktur strategis di Kalimantan Timur (Kaltim). Jembatan Mahulu bukan sekadar bentang baja, melainkan urat nadi mobilitas warga dan distribusi aktivitas ekonomi di Samarinda. Ketika insiden serupa terus terjadi, pertanyaan soal efektivitas pengawasan lalu lintas sungai pun tak terelakkan.
Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Kaltim, Sri Wahyuni, memastikan pemerintah daerah akan menindaklanjuti kejadian tersebut secara serius. Ia menegaskan, penanganan teknis pasca-insiden akan dilakukan oleh Dinas Perhubungan Kaltim bersama instansi terkait.
“Kami prihatin karena kejadian seperti ini kembali terulang. Padahal sudah ada pembatasan jenis dan ukuran kapal yang boleh melintas di bawah jembatan,” ujar Sri, pada Jumat (26/12/2025).
Menurutnya, Pemprov Kaltim sebelumnya telah memberikan peringatan kepada para operator kapal agar mematuhi ketentuan keselamatan pelayaran. Namun, insiden terbaru ini menunjukkan bahwa pengawasan di lapangan dan kepatuhan pelaku usaha masih jauh dari ideal.
Sekda menegaskan, pemerintah daerah tidak akan ragu mengambil langkah tegas terhadap pihak-pihak yang melanggar aturan dan berpotensi membahayakan keselamatan publik maupun infrastruktur vital.
Sorotan keras juga datang dari DPRD Kaltim Ketua Komisi II DPRD Kaltim, Sabaruddin Panrecalle, menilai tabrakan yang terjadi berulang kali tak bisa lagi dianggap sebagai kejadian kebetulan.
“Kalau sudah berulang, ini bukan lagi insidental. Ada kelalaian yang serius. Pengawasan lalu lintas sungai jelas belum berjalan maksimal, padahal risikonya sangat besar,” tegas Sabaruddin.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, tongkang bermuatan batu bara bernomor lambung M80-1302 yang ditarik tugboat KD 2018 menghantam bagian kaki penyangga Jembatan Mahulu. Meski belum ada laporan resmi soal kerusakan struktural, insiden tersebut kembali memunculkan kekhawatiran akan daya tahan jembatan jika tabrakan terus berulang.
“Kalau pengawasan tidak segera diperbaiki, ancaman terhadap jembatan dan keselamatan warga akan terus menghantui. Ini harus menjadi bahan evaluasi bersama semua pihak, bukan sekadar reaksi sesaat,” tutup Sabaruddin. (Din/Fch/Klausa)


















