Lompat ke konten utama

Klausa.co

Karhutla Samarinda Makin Meluas, Pemadaman Kini Bertumpu pada Jalur Darat

Tim tanggap bencana Samarinda dalam upaya memadamkan karhutla di wilayah Pelita 8. (Ist)

Bagikan

Samarinda, Klausa.co – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Samarinda terus meluas. Hingga awal Oktober 2026, lahan yang terdampak kebakaran tercatat mencapai 608,18 hektare.

Kepala Pelaksana BPBD Samarinda, Suwarso, mengatakan angka tersebut merupakan akumulasi penanganan hingga sehari sebelumnya. Luasan masih dapat bertambah karena pemadaman masih berlangsung di sejumlah titik.

“Kurang lebih 608,18 hektare itu tersebar se-Kota Samarinda, mulai dari wilayah Kecamatan Sambutan, Kecamatan Palaran, kemudian ada di Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, dan beberapa wilayah yang lainnya,” ujar Suwarso, Rabu (7/10/2026).

Pulau Atas menjadi salah satu kawasan dengan kebakaran cukup luas. Dalam tiga hari terakhir, sekitar 19 hektare lahan kembali terbakar sehingga total luasan di kawasan tersebut diperkirakan mencapai 53 hektare.

Baca Juga:  Andi Harun: IPM Tidak Cukup Ukur Kualitas SDM

“Tapi ini kan masih melakukan pemadaman terus, belum selesai. Nanti di terakhir baru kita ketahui berapa luasnya,” katanya.

Penanganan di lapangan terkendala kondisi lahan. Vegetasi yang mengering bercampur lapisan gambut membuat api dapat menjalar hingga bawah permukaan. Petugas juga menemukan lapisan batu bara di beberapa titik yang memungkinkan bara kembali muncul meski api di permukaan sudah padam.

Situasi semakin menantang setelah helikopter water bombing ditarik. Penarikan dilakukan berdasarkan evaluasi BNPB karena sejumlah wilayah lain di Kalimantan membutuhkan dukungan udara.

“Helikopter itu sudah pergi sejak kurang lebih empat hari yang lalu. Menurut keputusan dan penilaian dari BNPB, ada yang lebih parah kondisi kebakarannya selain di Kalimantan Timur,” jelasnya.

Baca Juga:  Normalisasi Sungai Karang Mumus, Pemkot Samarinda Bongkar 34 Bangunan di Segmen Tarmidi

BPBD Samarinda masih berkoordinasi dengan pengelola operasi water bombing dengan terus mengirimkan dokumentasi kondisi lapangan, terutama dari lokasi yang sulit dijangkau petugas.

Untuk sementara, pemadaman mengandalkan personel darat dan relawan. Water tank digunakan secara estafet dengan mengambil air dari sumber terdekat untuk kemudian disalurkan menuju titik api.

“Masih bertumpu dengan darat, sesuai kemampuan dibantu dengan relawan yang menjangkau titik-titik api terdalam,” paparnya.

Menurut Suwarso, medan yang curam, keterbatasan sumber air, serta lokasi titik api yang jauh dari akses kendaraan menjadi kendala utama.

Satgas Karhutla Samarinda tetap disiagakan setiap hari hingga pukul 16.00 WITA. Pemantauan berlanjut setelahnya, terutama terhadap titik api yang berpotensi berdampak ke permukiman.

Baca Juga:  El Nino Mengancam, Ibu Kota Nusantara Waspada Karhutla

“Kita lakukan pemantauan terus dan yang kira-kira berdampak besar terhadap pemukiman, itu yang harus kita jaga,” tutup Suwarso. (Din/Fch/Klausa)

Bagikan

.

.

Search
logo klausa.co

Afiliasi :

PT Klausa Media Indonesia

copyrightⓑ | 2021 klausa.co