Samarinda, Klausa.co – Tak ingin ketinggalan tren dan keseruan fenomena Citayem Fashion Week yang sempat viral beberapa waktu lalu, @cre.artsamarinda bersama @warungmbokmar.smr menggelar kegiatan serupa bernama Citra Niaga Fashion Week Vol. 1 di Kota Samarinda.
Berbeda dari CFW, peragaan busana di Kota Tepian tidak terselenggara di jalan raya. Sehingga, tidak mengganggu lalu lintas dan pengendara yang melintas. Kegiatan ini digelar di alun-alun Citra Niaga dengan nomor izin B/79/VIII/YAN.2.1/2022/Intelkam.
Dari pantauan Klausa.co, Minggu (7/8/2022). Fashion show ini diikuti berbagai kalangan tanpa mengenal usia dan profesi. Mulai anak-anak, remaja, orang dewasa, ojek online, model lokal bahkan pelayan toko pun berlenggak lenggok memperagakan busana yang dikenakan.
Salah satu busana menarik yaitu dengan tema etnik milik organisasi MDFM (Mua, Designer, Fotografer, Model). Penasihat Utama Suko Wibowo mengatakan bahwa busana yang dibawanya bernama Tatasa dan Sambara.
Tatasa memiliki arti Tapak Tangan Sangkulirang. Busana ini kombinasi wastra tradisional dan tekstil modern, terinspirasi dari salah satu cagar budaya dan warisan alam di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur yang sudah diakui dunia (Unesco).
Sedangkan Sambara, diartikan sebagai Samarinda membara. Terinspirasi dari batu bara dan rawannya kebakaran di Kota Tepian. Sehingga, busana ini mengingatkan agar berhati-hati dan tetap menjaga lingkungan.
Dalam kesempatan itu, Suko Wibowo mengaku sangat antusias terhadap kegiatan ini. “Kebetulan baru pulang dari Berau, ada kabar Citra Niaga Fashion Week. Buru-buru pulang dan kita siapkan busana dengan tema etnik penuh makna. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus terlaksana,” ucapnya.
Di tempat yang sama, Penyelenggara Garin Yudha Primaditya mengatakan bahwa kegiatan ini digelar karena mengikuti gelombang CFW di zebra cross kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat. “Lalu kenapa kita tidak buat kegiatan serupa juga di Kota Samarinda,” bebernya.
Selain itu, pengusaha muda ini juga ingin Citra Niaga kembali viral tidak hanya tentang perkopian tapi karena kreativitas anak muda. “Kita mau menghidupkan suasana Citra Niaga yang sempat pudar. Alhamdulillah, ternyata kegiatan ini dihadiri ratusan anak muda yang sangat antusias,” terangnya.
Pemilik warung mbok mar itu meminta agar tidak melihat penyelenggaraan CNFW dari sisi negatifnya saja. Akan tetapi ada sisi positifnya juga, yaitu mengenalkan cagar budaya Kaltim ke masyarakat luas dan menumbuhkan perekonomian di sekitar Citra Niaga.
Ke depannya, Ketua PC Tidar Samarinda ini akan mengadakan kegiatan positif lainnya yang berhubungan dengan ekonomi dan pendidikan di Kota Samarinda. “Apalagi suasana bulan kemerdekaan, kita akan mengadakan food festival dan mangajak pelaku industri kreatif membuat acara keren lainnya untuk anak-anak muda di Kota Samarinda,”paparnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Mademun membeberkan alasan memilih Citra Niaga sebagai tempat CNFW. “Sebelumnya, banyak kritik netizen terhadap kegiatan seperti ini yang diduga akan membuat jalanan menjadi macet,” katanya.
“Maka kita buktikan bahwa tujuan kegiatan ini lebih kearah positif, kita gelar di Citra Niaga supaya tidak mengganggu fasilitas umum jalan raya. Makanya, kita ciptakan vibes Samarinda di sini. Kita tunjukkan kalau Kota Samarinda juga punya potensi,” sambungnya.
(APR/Klausa)
IKUTI BERITA KLAUSA LAINNYA DI GOOGLE NEWS















