Lompat ke konten utama

Klausa.co

Lebaran Unik di Pusat Rehabilitasi Satwa Kaltim, Orang Utan “Berburu” Ketupat

Bayi orangutan yang menyantap ketupat enrichment di BORA Berau. (Dok: BKSDA Kaltim)

Bagikan

Samarinda, Klausa.co – Suasana Idulfitri di dua pusat rehabilitasi satwa di Kalimantan Timur (Kaltim) berlangsung dengan cara yang tak biasa. Alih-alih sekadar memberi pakan, pengelola menghadirkan metode kreatif berupa “ketupat enrichment” untuk melatih insting alami satwa, khususnya orang utan.

Di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, Kampung Merasa, Kabupaten Berau, yang dikelola oleh Conservation Action Network (CAN), para animal keeper menyajikan makanan dengan dibungkus anyaman ketupat. Ketupat-ketupat tersebut digantung di area bermain, memancing empat bayi orang utan yang tengah direhabilitasi untuk memanjat, meraih, hingga membuka bungkusnya demi mendapatkan makanan.

Metode serupa juga diterapkan di pusat rehabilitasi orang utan milik Center for Orangutan Protection (COP) melalui program Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) di Berau. Ketupat berisi potongan buah, selai, hingga madu digantung di pepohonan saat sesi sekolah hutan, sehingga orang utan harus berupaya mencapainya seperti di habitat asli.

Baca Juga:  Orangutan Kaltim Terusir dari Habitat, BKSDA Lakukan 37 Penyelamatan pada Januari-Februari 2025

Founder dan Direktur CAN, Paulinus Kristanto, menjelaskan bahwa momen Lebaran dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran satwa.

“Metode pengayaan ini sengaja dirancang untuk menantang kemampuan fisik dan kognitif bayi orang utan. Mereka harus memanjat, bergelantungan, hingga berkoordinasi untuk meraih makanan, persis seperti saat mencari buah di alam liar,” ujarnya.

Dia menambahkan, proses membuka anyaman ketupat juga melatih kesabaran serta ketangkasan jemari satwa. Menurutnya, respons yang ditunjukkan sangat positif karena orang utan tidak sekadar makan, tetapi terlibat aktif dalam proses “berburu” makanan.

Hal senada disampaikan Manajer BORA, Widi Nursanti. Ia menekankan pentingnya enrichment untuk menjaga satwa tetap aktif dan terstimulasi selama masa rehabilitasi.

Baca Juga:  Anies Baswedan: Perubahan Bukan Hanya Ganti Foto Presiden, Tapi Juga Ganti Kebijakan

“Enrichment itu membuat mereka berpikir, belajar, dan mencari cara untuk mendapatkan makanan. Dengan konsep ketupat ini, selain menghindari kejenuhan, juga melatih problem solving, merangsang indra penciuman, serta kreativitas fisik mereka,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Saya Alam (BKSDA) Kaltim, M Ari Wibawanto, menyambut positif inovasi tersebut. Dia menilai pendekatan sederhana namun kreatif ini mampu menjaga dinamika proses rehabilitasi satwa, bahkan di tengah perayaan hari besar.

“Media ketupat ini bukan sekadar kemasan unik, tetapi alat problem solving yang efektif. Satwa didorong menggunakan kemampuan alami mereka untuk mendapatkan makanan, sebagaimana di alam liar,” ungkapnya.

Ari optimistis, pengayaan perilaku seperti ini dapat meminimalisir kejenuhan satwa di dalam kandang sekaligus memperkuat kesiapan mereka sebelum dilepasliarkan.

Baca Juga:  Musnahkan 2 Ribu Lebih Miras Ilegal, Pemkot Samarinda Akan Gencar Lakukan Penertiban

“Momen kupatan ini menjadi simbol harapan bahwa setiap proses belajar yang mereka jalani adalah langkah menuju kembali ke habitat aslinya,” pungkasnya. (Din/Fch/Klausa)

Bagikan

.

.

Search
logo klausa.co

Afiliasi :

PT Klausa Media Indonesia

copyrightⓑ | 2021 klausa.co