Lompat ke konten utama

Klausa.co

Kabut Asap Menyelimuti Samarinda, BMKG Ungkap Pengaruh Awan dan Perubahan Arah Angin

Kondisi Samarinda yang berselimut asap.

Bagikan

Samarinda, Klausa.co – Kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah Kota Samarinda, Kamis (17/9/2026). Selain dipengaruhi aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kondisi atmosfer dalam beberapa hari terakhir membuat partikel asap lebih lama bertahan di udara.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II APT Pranoto BMKG Samarinda, Riza Arian Noor, menjelaskan tutupan awan yang cukup dominan membuat pemanasan permukaan tidak berlangsung optimal. Kondisi ini berpengaruh terhadap pergerakan udara yang biasanya membantu mengangkat partikel asap ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.

Riza mengatakan, sejak 16 hingga 17 September, BMKG memang memprakirakan adanya peningkatan tutupan awan dan potensi hujan di sejumlah wilayah. Namun, kondisi di Samarinda pada Kamis pagi justru didominasi cuaca berawan.

“Beberapa hari kemarin sesuai prediksi kita bahwa tanggal 16-17 September itu memang ada potensi perawanan yang lumayan. Artinya ada potensi-potensi hujan. Ternyata kondisi hari ini kita lihat di wilayah Kota Samarinda berawan dari pagi,” kata Riza, Kamis (17/9/2026).

Menurut dia, tutupan awan tersebut mengurangi radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi. Akibatnya, udara di dekat permukaan tidak memperoleh pemanasan yang cukup untuk mendorong terjadinya pergerakan vertikal secara optimal.

Baca Juga:  Progres Terowongan Samarinda: Struktur Aman, Tunggu Restu Pusat

Dalam kondisi seperti itu, keberadaan asap dari titik-titik pembakaran menjadi lebih mudah terperangkap pada lapisan udara tertentu. Partikel asap tidak terdorong naik sebagaimana kondisi atmosfer yang lebih mendukung.

“Kalau secara meteorologinya karena berawan tadi, radiasi matahari tidak bisa masuk ke permukaan. Sekarang kondisi udara memang terjadi pembakaran di beberapa tempat, akhirnya asap-asap itu tertahan,” ujarnya.

Faktor lain yang turut memengaruhi penyebaran asap adalah perubahan arah angin. Riza menyebut pola angin di Samarinda sebelumnya lebih banyak bergerak dari arah selatan hingga tenggara. Namun, dalam kondisi terkini, angin beralih dari arah barat laut.

Perubahan ini membuat asap dari sumber pembakaran di wilayah yang berbeda berpotensi bergerak menuju Samarinda.

Baca Juga:  Kabut Asap Karhutla Ganggu Sekolah di Kaltim, 11.864 Siswa Belajar dari Rumah

“Biasanya arah angin dari tenggara-selatan itu menjauhi tempat. Sekarang mungkin kebakarannya ada di arah barat laut. Sekarang anginnya berubah, artinya ke sini,” jelasnya.

Kondisi tersebut juga berdampak pada jarak pandang di kawasan Bandara APT Pranoto Samarinda. Meski mengalami penurunan, Riza memastikan sejauh ini belum ada laporan gangguan terhadap operasional penerbangan.

“Kalau penerbangan sampai sekarang masih normal, tidak ada laporan terganggu. Intinya cuma jarak pandang saja menurun,” katanya.

Di sisi lain, hujan yang turun di sejumlah wilayah Kalimantan Timur belum serta-merta membersihkan kabut asap di seluruh daerah. BMKG mencatat hujan masih terjadi di Berau, sebagian wilayah Kutai Kartanegara dan Mahakam Ulu. Sementara Samarinda sempat mengalami gerimis.

Baca Juga:  Belajar Politik di DPRD Kaltim, Mahasiswa Unmul Dapat Pesan dari Seno Aji

Namun, hujan tidak bisa menjadi satu-satunya indikator untuk menentukan apakah konsentrasi asap akan langsung berkurang. Efeknya sangat bergantung pada lokasi hujan, arah angin, tutupan awan, hingga keberadaan sumber kebakaran.

“Enggak bisa dipastikan, karena alat kita real time. Tiap jam bisa berubah. Tergantung kondisi udara, angin, awan, dan hujan,” tegasnya.

Riza juga membantah anggapan bahwa operasi modifikasi cuaca (OMC) justru memperburuk kondisi kabut asap. Menurut dia, kegiatan tersebut dilakukan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan sehingga dapat membantu mengurangi dampak asap akibat karhutla.

“Kalau OMC tidak ada menambah kabut. Justru kegiatan kami bagaimana kami bisa menurunkan hujan untuk mengurangi asap,” kuncinya. (Din/Fch/Klausa)

Bagikan

.

.

Search
logo klausa.co

Afiliasi :

PT Klausa Media Indonesia

copyrightâ“‘ | 2021 klausa.co