Lompat ke konten utama

Klausa.co

Bendungan Benanga Kritis, Cadangan Air Baku Samarinda Diperkirakan Bertahan 5-6 Hari

Kondisi Bendungan Benanga Lempake Samarinda.

Bagikan

Samarinda, Klausa.co – Cadangan air di Bendungan Benanga Lempake, Samarinda, terus menyusut di tengah belum datangnya hujan berarti. Kondisi ini mulai mengancam keberlanjutan pasokan air baku untuk kebutuhan masyarakat.

Tinggi muka air (TMA) Bendungan Benanga kini berada di level 6,4 meter. Angka tersebut sudah mendekati batas terendah pengambilan air baku, yakni 6 meter.

Kepala Unit Pengelola Bendungan Benanga Lempake, Hayu Wardana, mengatakan kondisi bendungan saat ini telah memasuki fase kritis.

Menurut dia, tanpa tambahan debit dari hujan, cadangan air yang masih dapat dimanfaatkan untuk produksi air baku diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar lima hingga enam hari.

“Untuk kondisi sekarang TMA berada di 6,4 meter. Ini memang sudah masuk kondisi kritis sebelum kekeringan,” kata Hayu, Jumat (18/9/2026).

Untuk memperpanjang usia cadangan air, volume pengambilan untuk kebutuhan PDAM kini ditekan. Debit yang sebelumnya lebih besar dikurangi menjadi sekitar 40 persen dari kapasitas sebelumnya, atau berada di kisaran 100 liter per detik.

Baca Juga:  Agusriansyah Desak Penanganan Cepat Kasus Dugaan Pelecehan di Pesantren

Kebijakan tersebut dilakukan agar air yang tersisa di bendungan tidak cepat terkuras. Sebab, ketika TMA turun hingga 6 meter, proses pengambilan air baku untuk produksi PDAM diperkirakan tidak lagi dapat berjalan normal.

“TMA terendah nantinya di angka 6 meter. Kalau sudah sampai TMA 6, PDAM kemungkinan tidak mampu lagi melakukan produksi untuk pengambilan air baku,” jelasnya.

Pengelola memperkirakan penurunan muka air masih akan berlangsung apabila tidak terjadi hujan. Berdasarkan laju penyusutan yang terjadi, waktu yang tersedia untuk mempertahankan produksi air baku semakin terbatas.

“Melihat penurunan yang terjadi, mungkin tinggal lima sampai enam hari lagi. Kalau tidak ada hujan yang masuk, kemungkinan PDAM sudah berhenti berproduksi,” tuturnya.

Baca Juga:  Liga 1 Indonesia Resmi Kick Off 27 Agustus, Pemain Borneo FC Sudah Siap

Di tengah kondisi tersebut, pemanfaatan air untuk sektor irigasi telah dihentikan. Pengairan di Daerah Irigasi Belimau dan Betapus tidak lagi dilakukan sejak awal September.

Hayu menjelaskan, penghentian tersebut merupakan langkah yang harus diambil karena debit air di Bendungan Benanga tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan irigasi sekaligus menjaga pasokan air baku.

Dengan irigasi dihentikan, sisa air bendungan dapat diprioritaskan untuk kebutuhan produksi air baku Samarinda.

“Untuk pengairan, kondisi sekarang sudah dihentikan. Irigasi di daerah Belimau maupun Betapus sudah tidak bisa digunakan lagi,” ujarnya.

Persoalan tersebut juga merupakan dampak dari panjangnya periode tanpa hujan. Pengelola Bendungan Benanga mencatat hujan terakhir yang memberikan tambahan debit signifikan terjadi sekitar pertengahan Juli.

Sejak saat itu, belum terdapat hujan dengan intensitas yang mampu membantu menaikkan kembali permukaan air bendungan.

Baca Juga:  Jelang Duel Lawan Dewa United, Borneo FC Fokus Pemulihan dan Strategi

“Terakhir terjadi hujan pada pertengahan Juli. Sampai sekarang belum ada lagi hujan di Bendungan Lempake,” ungkap Hayu.

Menghadapi kemungkinan penurunan muka air lebih lanjut, pengelola mulai menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Salah satunya dengan menyiagakan pompa untuk membantu proses pemanfaatan air ketika kondisi bendungan semakin kritis.

Dukungan mobil tangki dari Balai Wilayah Sungai (BWS) juga disiapkan sebagai opsi apabila kebutuhan distribusi air di lapangan meningkat.

Hayu menyebut kondisi kekeringan yang terjadi saat ini sudah tergolong ekstrem. Karena itu, datangnya hujan dalam waktu dekat menjadi faktor penting untuk menjaga Bendungan Benanga tetap mampu memasok kebutuhan air baku Samarinda.

“Sekarang kondisinya memang sudah kekeringan ekstrem. Karena itu, hujan dalam waktu dekat akan menentukan apakah cadangan Benanga masih mampu menopang produksi air baku Samarinda,” pungkasnya. (Din/Fch/Klausa)

Bagikan

.

.

Search
logo klausa.co

Afiliasi :

PT Klausa Media Indonesia

copyrightâ“‘ | 2021 klausa.co