Klausa.co

Bukan Buruh Tani, Program Cetak Sawah Kaltim Disiapkan untuk Pengusaha Muda

Kepala BRMP Kaltim, Akhmad Hamdan. (Din/Klausa)

Bagikan

Samarinda, Klausa.co – Program cetak sawah berskala besar yang disiapkan pemerintah pusat di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai 2026 tak hanya dibidik untuk mengejar swasembada pangan. Program ini juga diarahkan menjadi ruang masuk generasi muda ke sektor pertanian modern.

Pemerintah menargetkan percetakan sawah seluas 20 ribu hektare di Bumi Etam pada 2026. Angka itu melonjak drastis dibanding capaian 2025 yang baru menyentuh sekitar 1.800 hektare. Lonjakan target tersebut menjadi bagian dari strategi nasional memperkuat produksi pangan, sekaligus mengubah wajah pertanian yang selama ini dipersepsikan konvensional.

Kepala Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kaltim, Akhmad Hamdan, menyebut program ini dirancang dengan pendekatan berbeda. Pemerintah tidak ingin memperluas lahan semata, tetapi juga menyiapkan ekosistem usaha yang memungkinkan anak muda terlibat sebagai pengelola, tidak hanya tenaga kerja di sawah.

Baca Juga:  Dapat Rapor Merah Dari Presiden, Isran Noor Enggan Salahkan Masyarakat Atas Meningkatnya Kasus COVID-19

“Yang kami dorong adalah pemuda menjadi pelaku usaha pangan. Jadi bukan buruh tani, tapi pengusaha padi atau beras,” kata Hamdan, Senin (12/1/2025).

Skema tersebut dijalankan melalui pembentukan brigade pangan. Satu brigade terdiri dari 15 orang dan bertanggung jawab mengelola lahan seluas 200 hektare. Hingga kini, sekitar 70 brigade pangan telah terbentuk dan tersebar di sejumlah wilayah di Kaltim.

Di dalam struktur brigade, peran manajer pengelola dinilai krusial. Dari posisi itu, potensi pendapatan yang diperoleh disebut cukup kompetitif. Hamdan menyebut, penghasilan manajer brigade bisa menembus Rp10 juta per bulan, tergantung luas lahan dan produktivitas yang dikelola.

“Kalau satu brigade pegang 200 hektare, penghasilannya bisa di atas Rp10 juta per bulan,” ujarnya.

Baca Juga:  Jembatan Mahakam I Kembali Ditabrak Tongkang, DPRD Kaltim Desak Peningkatan Pengawasan

Dari sisi produksi, Hamdan menilai pertanian padi di Kaltim memiliki prospek yang menjanjikan. Rata-rata hasil panen mencapai 4 ton per hektare. Dengan harga gabah sekitar Rp6.500 per kilogram dan biaya produksi yang berkisar 8 hingga 10 persen, margin keuntungan dinilai cukup besar.

Keunggulan generasi muda, lanjut Hamdan, terletak pada kemampuan adaptasi terhadap teknologi. Pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) membuat proses budidaya lebih efisien, terukur, dan profesional. Artinya proses program ini jauh dari gambaran pertanian tradisional yang identik dengan kerja kasar.

Program ini juga diposisikan sebagai alternatif lapangan kerja lokal. Hamdan menyebut hampir seluruh kabupaten di Kaltim telah mengusulkan lokasi baru untuk percetakan sawah. Artinya, peluang kerja di sektor pangan tersedia tanpa harus mendorong pemuda merantau ke luar daerah.

Baca Juga:  Seno Aji Paparkan Pendidikan Gratis di Speak Up Kandidat Vol.1

Menjawab persoalan serapan gabah yang sempat tersendat pada 2025, Hamdan menjelaskan hal itu terjadi karena Bulog telah melampaui target penyerapan. Saat ini, skema penyerapan diubah melalui pola kemitraan dengan penggilingan padi desa, dengan fokus penyerapan dalam bentuk beras, bukan lagi gabah.

Meski peluang terbuka lebar, tantangan terbesar justru datang dari persepsi. Hamdan mengakui minat generasi muda terhadap pertanian masih rendah, dipengaruhi stigma lama bahwa bertani adalah pekerjaan berat dan tidak menjanjikan.

“Masalahnya ada di pola pikir. Sekarang pertanian sudah modern. Tidak lagi seperti bayangan kerja di lumpur,” tutupnya. (Din/Fch/Klausa)

Bagikan

.

.

Search
logo klausa.co

Afiliasi :

PT Klausa Media Indonesia

copyrightâ“‘ | 2021 klausa.co