Samarinda, Klausa.co – Perhatian publik kembali tertuju pada jalur nasional Sangatta-Simpang Perdau. Beberapa titik longsor membuat akses di jalur vital itu kian terancam. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kalimantan Timur pun menggandeng PT Kaltim Prima Coal (KPC) untuk penanganan darurat sekaligus rencana perbaikan permanen.
Salah satu titik kritis berada di STA 23+050. Longsor yang pertama kali terjadi pada Januari 2025 terus berulang hingga memakan separuh badan jalan. Kepala BBPJN Kaltim, Yudi Hardiana, menegaskan kondisi tersebut tidak bisa diatasi dengan metode biasa.
“Solusi permanen wajib dilakukan agar jalur tetap berfungsi sebagai jalan nasional,” kata Yudi, Rabu (10/9/2025).
Rencana yang disiapkan adalah pembangunan bored pile sepanjang 50 meter dengan nilai pekerjaan mencapai Rp5,9 miliar. Konstruksi dijadwalkan mulai Oktober setelah proses soil investigation rampung.
Tak hanya itu, pemerintah juga mengizinkan pengalihan trase sepanjang 11,7 kilometer pada segmen STA 20+500 hingga 30+700. Jalur pengganti melintasi area tambang KPC dan ditargetkan selesai dalam dua tahun. Perawatan jalur lama tetap menjadi tanggung jawab KPC.
“Usulan pengalihan trase ini sudah berproses sejak 2018. Kini ada titik terang dengan komitmen penuh dari perusahaan,” ujar Yudi.
BBPJN juga menyiapkan rencana penanganan titik rawan lain, seperti di STA 5+650, untuk masuk dalam alokasi anggaran 2026.
Menurut Yudi, keterlibatan swasta menjadi strategi penting di tengah keterbatasan anggaran negara.
“Kami mendorong partisipasi pelaku usaha yang menggunakan jalan nasional agar turut menjaga keberlanjutannya. Semua tentu tetap mengacu pada regulasi dan standar teknis Kementerian PUPR,” tutupnya. (Din/Fch/Klausa)
















