Samarinda, Klausa.co – Pelayanan air bersih di Samarinda mulai kembali normal setelah kadar klorida air baku Sungai Mahakam menurun di sebagian besar titik pemantauan. Namun, pemulihan belum sepenuhnya terjadi karena IPA Bantuas masih menghadapi kadar klorida tinggi yang membuat operasionalnya belum dapat berjalan penuh.
Asisten Manajer Humas Perumda Tirta Kencana, Cevi Wahyudi, mengatakan sebagian besar instalasi pengolahan air (IPA) yang sebelumnya melakukan penyesuaian produksi kini telah kembali beroperasi. Kondisi tersebut terjadi setelah hasil pemantauan menunjukkan kadar klorida di sejumlah sumber air baku kembali memenuhi batas yang diperbolehkan.
“Hari ini kita sudah kembali ke kondisi normal. Informasi krisis untuk aliran air yang masuk ke IPA Tirta Kencana hingga Samarinda Seberang dan Gunung Lipan sebelumnya sudah bisa kita nyatakan normal,” kata Cevi, Senin (14/9/2026).
Pemulihan itu terlihat dari hasil pemeriksaan laboratorium pada 12 September. Sejumlah IPA mulai menunjukkan kadar klorida yang sesuai dengan standar pengoperasian. Kondisi tersebut kemudian berlanjut hingga Minggu (13/9/2026), ketika sebagian besar instalasi yang sebelumnya berada dalam kondisi waspada mulai kembali normal.
IPA Selili dan Sungai Kapih menjadi bagian dari instalasi yang telah kembali beroperasi setelah terdampak peningkatan kadar klorida. Kondisi serupa juga terjadi pada IPA Kalhol dan Pulau Atas.
“Setelah kita pantau kembali, kadar klorida di beberapa IPA sudah memenuhi standar. Instruksi terkait air asin untuk IPA Selili dan Sungai Kapih juga sudah kembali normal,” ujar Cevi.
Meski demikian, Perumda Tirta Kencana masih memberikan perhatian khusus terhadap IPA Bantuas. Berdasarkan pengukuran sekitar pukul 11.53 Wita, kadar klorida pada sumber air baku instalasi tersebut masih berada di atas 1.000 ppm.
“Untuk IPA Bantuas masih tinggi kadar kloridanya. Sementara IPA Selili, Kalhol, dan Pulau Atas sudah beroperasi normal,” jelasnya.
Kondisi air baku yang belum stabil membuat Perumda menerapkan pola operasi situasional. Produksi akan dihentikan sementara apabila kadar klorida kembali meningkat dan dilanjutkan ketika hasil pengukuran menunjukkan kualitas air telah memenuhi ketentuan.
“Kalau kadar kloridanya kembali tinggi, kita hentikan dulu. Kalau kondisinya sudah memungkinkan, kita jalankan lagi,” katanya.
Cevi memastikan gangguan sebelumnya tidak sampai membuat pelayanan air bersih berhenti selama 24 jam penuh. Perumda melakukan penyesuaian dengan mengurangi waktu operasional IPA berdasarkan perkembangan kualitas air baku.
Pengawasan juga dilakukan lebih ketat ketika kadar klorida berada pada level siaga hingga kritis. Pengukuran dilakukan setiap 15 menit sebagai dasar menentukan apakah produksi tetap berjalan atau harus dihentikan.
“Setiap 15 menit kita pantau. Kalau kloridanya turun, produksi kita jalankan. Kalau naik lagi, kita hentikan,” ucap Cevi.
Sebelumnya, kadar klorida Sungai Mahakam sempat menembus lebih dari 1.000 ppm. Kondisi itu membuat 10 IPA melakukan pengurangan jam operasional. Setelah produksi kembali berjalan, distribusi kepada pelanggan belum langsung merata lantaran jaringan yang sempat kosong membutuhkan waktu untuk kembali terisi.
“Mudah-mudahan malam ini alirannya sudah merata semuanya,” kata Cevi.
Sejalan dengan membaiknya kondisi, distribusi bantuan air bersih juga tidak lagi dilakukan secara luas. Perumda akan kembali membuka layanan bantuan apabila situasi memburuk, terutama jika kadar klorida di sekitar IPA Bantuas kembali meningkat.
Pemantauan terhadap kondisi air baku Sungai Mahakam tetap akan dilakukan setidaknya selama 10 hari ke depan. Perumda berharap hujan di wilayah hulu dan Samarinda dapat membantu menjaga kondisi sungai sehingga peningkatan kadar klorida tidak kembali terjadi.
“Mudah-mudahan di hulu ada hujan, di Samarinda juga ada hujan, sehingga tidak ada lagi instruksi air asin,” pungkasnya. (Din/Fch/Klausa)











