Klausa.co

Sekolah Rakyat 58 Samarinda Bangun Harapan Anak Prasejahtera Lewat Sistem Belajar Adaptif

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Samarinda, Rabiatul Adawiyah. (Din/Klausa)

Bagikan

Samarinda, Klausa.co – Di sebuah kompleks sederhana di Samarinda, puluhan anak dari keluarga prasejahtera saban pagi datang dengan semangat. Tak sekadar datang ke sekolah, tapi ke tempat yang memberi harapan, Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 58.

Berbeda dari sekolah umum, SRT 58 tidak hanya membuka akses belajar gratis. Sekolah ini juga menciptakan sistem pembelajaran adaptif, metode yang disesuaikan dengan kemampuan dan latar sosial tiap anak.

“Banyak dari mereka belum pernah duduk di bangku sekolah formal, ada juga yang sempat berhenti di tengah jalan,” ujar Kepala SRT 58, Rabiatul Adawiyah, pada Kamis (9/10/2025).

Menurutnya, tantangan utama tidak hanya soal kurikulum, melainkan membentuk kembali karakter belajar anak-anak yang sempat kehilangan arah.

“Kami bagi kelas bukan berdasarkan usia, tapi kemampuan. Jadi, setiap anak bisa belajar sesuai kecepatannya tanpa merasa tertinggal,” jelasnya.

Baca Juga:  Syaiful Bachtiar: Kritik Tak Boleh Dibalas dengan Intimidasi Digital

Untuk jenjang SD, SRT 58 membagi dua kelompok belajar. Kelas kecil diperuntukkan bagi anak usia 6-9 tahun yang belum mengenal baca tulis, sementara kelas besar untuk anak usia 10-12 tahun yang pernah bersekolah tapi putus di tengah jalan.

Setiap kelompok didampingi dua guru agar perhatian bisa lebih intensif, terutama bagi siswa yang masih membawa trauma sosial atau masalah keluarga.

“Anak-anak ini perlu pendekatan yang lembut tapi tegas. Kadang mereka lebih dulu harus diajarkan percaya diri sebelum belajar membaca,” tutur Rabiatul.

Untuk jenjang SMA, rentang usia siswanya cukup lebar, dari 14 hingga 20 tahun. Pembelajaran di tingkat ini tidak hanya berisi pelajaran akademik, tetapi juga penguatan karakter dan pembiasaan hidup mandiri.

Baca Juga:  Remaja 16 Tahun Jadi Korban Pemerkosaan Usai Dicekoki Sabu

SRT 58 menerapkan Modul Al-Hikmah, kurikulum khas Sekolah Rakyat yang menggabungkan pelajaran umum, nilai keagamaan, dan pendidikan karakter.

“Setiap pagi mereka diajarkan hal sederhana: bangun tepat waktu, bersih-bersih kamar, mencuci baju sendiri. Kebiasaan itu menumbuhkan kemandirian,” ujar Rabiatul.

Penggunaan ponsel di lingkungan sekolah juga diatur ketat. Jika dulu diperbolehkan untuk adaptasi, kini mulai dibatasi dan akan dihapuskan bertahap.

Tak hanya soal karakter, SRT 58 kini juga bergerak ke arah pembelajaran berbasis teknologi. Sekolah ini tengah menyiapkan program ‘satu anak satu laptop’ untuk mendukung pengenalan coding dan kecerdasan buatan.

“Laptop hanya digunakan di jam pelajaran, tidak boleh dibawa ke kamar. Nanti akan ada guru khusus yang mengajar coding dan AI,” jelas Rabiatul.

Baca Juga:  Pelindo Perketat Pengawasan Kapal di Sungai Mahakam Usai Dua Insiden Tabrakan Jembatan Mahulu

Muatan lokal yang sebelumnya berupa bahasa daerah kini diseragamkan dengan pelajaran nasional, ditambah materi keterampilan digital. Tujuannya, agar anak-anak dari berbagai latar belakang punya kesempatan belajar yang setara dan relevan dengan tuntutan zaman.

Lebih dari sekadar sekolah gratis, SRT 58 menjadi bagian dari strategi negara untuk memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan.

“Ini bukan sekadar tempat belajar. Ini strategi negara untuk membangun masa depan anak-anak miskin agar mereka bisa berdiri di atas kaki sendiri,” tegas Rabiatul.

Dalam jangka panjang, SRT 58 berencana memperluas kapasitas penerimaan dan memperkuat fasilitas pembelajaran.

“Anak-anak ini adalah masa depan bangsa. Kami ingin memastikan mereka tumbuh dengan pengetahuan, karakter, dan harapan,” tutupnya. (Din/Fch/Klausa)

Bagikan

.

.

Search
logo klausa.co

Afiliasi :

PT Klausa Media Indonesia

copyrightⓑ | 2021 klausa.co