Samarinda, Klausa.co – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Timur (Kaltim) kembali menjadi sorotan. Sedikitnya 25 siswa SDN 008 Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dilaporkan mengalami pusing, mual, dan muntah usai menyantap menu MBG pada Rabu, 11 Februari 2026.
Insiden itu memantik respons dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kota Samarinda. Wali Kota Samarinda, Andi Harun, mengakui program berskala nasional seperti MBG memiliki tantangan teknis, terutama dalam pengelolaan dapur yang memproduksi ribuan porsi setiap hari.
“Ini program besar. Satu dapur bisa melayani 1.000 hingga 3.000 porsi. Karena masih tahap awal, tentu ada kemungkinan kejadian di satu dua tempat seperti di daerah lain,” ujar Andi Harun, pada Minggu (15/2/2026).
Program MBG merupakan kebijakan nasional yang menjadi mandat langsung Presiden RI, Prabowo Subianto. Karena itu, menurut pria yang akrab disapa AH itu, pelaksanaannya tak bisa hanya dibebankan pada satu institusi. Dia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk meminimalkan risiko.
“TNI menjaga, Polri menjaga, pemerintah juga terlibat. Kami sudah menugaskan Dinas Kesehatan untuk mengawasi dari sisi kesehatan makanan,” katanya.
Wali Kota juga mengingatkan peran penting mitra penyedia bahan pangan dan pengelola dapur. Kualitas bahan baku, kebersihan peralatan, hingga higienitas ruang produksi disebut menjadi faktor penentu keamanan konsumsi.
“Kalau tidak bisa sepenuhnya menghindari, kita harus mampu memitigasi. Kita belajar dari kejadian di daerah lain dan mengantisipasinya,” tambahnya.
Di sisi lain, Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Hendri Umar, memastikan pengawasan distribusi dan pengolahan makanan MBG di Samarinda dilakukan secara ketat. Perwira melati tiga itu menyebut, proses pengendalian dimulai dari pembelian bahan mentah, penyimpanan, hingga tahap pencucian dan pengolahan.
“Kita harus benar-benar ketat dalam pendistribusian bahan mentah. Semua harus higienis,” tegasnya.
Pengawasan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), lanjutnya, melibatkan ahli gizi yang siaga setiap hari. Fungsi Kedokteran dan Kesehatan (Dokes) Polres turut dilibatkan untuk mendukung keamanan pangan, disertai pengawasan internal oleh Propam.
“Perhatian terhadap kebersihan bahan mentah, termasuk sayur-sayuran, benar-benar kami jaga di SPPG wilayah Samarinda,” ujarnya. (Din/Fch/Klausa)














