Samarinda, Klausa.co – Demonstrasi Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rabu (21/10/2026), berlangsung tegang. Massa mahasiswa dan elemen masyarakat sempat merangsek ke halaman kantor gubernur setelah menunggu Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menemui mereka. Aksi tersebut membawa tujuh tuntutan, mulai dari penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga persoalan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan pemadaman listrik bergilir.
Aksi bertajuk “2 Tahun Prabowo-Gibran: Kaltim Jadi Anak Tiri, Kaltim Jadi Abu di Tanah Sendiri” itu awalnya berlangsung tertib. Massa duduk di pelataran kantor gubernur sembari menunggu kehadiran Rudy. Namun, hingga menjelang pukul 17.00 Wita, gubernur belum juga menemui demonstran.
Situasi kemudian memanas. Massa dan aparat keamanan terlibat aksi saling dorong di halaman kantor gubernur. Ketegangan baru mulai mereda sekitar pukul 17.30 Wita, ketika Rudy akhirnya keluar untuk menemui demonstran dan mendengarkan aspirasi mereka.
Humas GERAM, Candra, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan terhadap pengelolaan kekayaan alam Kaltim yang dinilai belum memberikan kesejahteraan secara sebanding kepada masyarakat.
“Selama ini kekayaan alam Kaltim terus dikeruk, tetapi persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat belum juga terselesaikan,” ujar Candra.
Ada tujuh tuntutan yang dibawa GERAM. Massa meminta pemerintah menetapkan karhutla sebagai bencana nasional, menindak perusahaan yang terbukti melakukan pembakaran hutan, serta memberikan sanksi kepada perusahaan tambang yang tidak menjalankan reklamasi pascatambang.
Selain itu, mereka mendesak penyelesaian kelangkaan BBM, penghentian pemadaman listrik bergilir, evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta evaluasi program Gratispol yang dijalankan Pemerintah Provinsi Kaltim.
Menanggapi tuntutan tersebut, Rudy menyebut penyelesaian persoalan BBM membutuhkan koordinasi lintas instansi, terutama dengan pemerintah pusat, Pertamina, dan Danantara. Menurutnya, pembahasan bersama diperlukan untuk menemukan solusi yang dapat segera diterapkan.
“Persoalan ini harus kita diskusikan bersama Menteri SDM, Dirjen Pertamina, maupun Danantara. Kita perlu mencari solusi supaya masalah ini bisa segera diselesaikan,” katanya di hadapan massa.
Salah satu opsi yang disampaikan Rudy ialah memperpanjang waktu distribusi BBM hingga malam hari. Langkah tersebut dinilai dapat menjadi alternatif untuk mengurai antrean sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, terkait pemadaman listrik bergilir, Rudy menyinggung gangguan pada PLTGU Senipah sebagai salah satu persoalan yang perlu ditangani. Penyelesaian masalah di kawasan Teluk Balikpapan juga dianggap penting untuk mendukung keandalan pasokan listrik.
Dia menyatakan akan berkomunikasi dengan PLN. Rudy turut menyoroti rasio elektrifikasi yang disebut telah mencapai 98 persen, tetapi belum sepenuhnya menjamin pasokan listrik yang andal bagi masyarakat.
“Rasio elektrifikasi katanya sudah 98 persen, tetapi kenyataannya kita bergiliran hidup, bukan bergiliran mati. Ini yang harus kita selesaikan bersama-sama,” tegasnya.
Mengenai persoalan pertambangan, Rudy menyatakan akan menyampaikan masalah kewenangan pengelolaan batu bara kepada Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara. Adapun evaluasi program Gratispol, kata dia, telah melibatkan DPRD dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk terus dibenahi.
Sementara tuntutan terkait karhutla, penindakan pembakaran hutan, reklamasi pascatambang, serta evaluasi MBG dan KDMP masih membutuhkan koordinasi lebih lanjut dengan instansi yang memiliki kewenangan.
Di luar tujuh tuntutan tersebut, demonstran turut menyoroti insiden yang melibatkan ajudan gubernur, Asky Rizal Toding, dengan mahasiswa di sekitar Masjid Nurul Mu’minin.
Mahasiswa sebelumnya mengaku mengalami senggolan dan dorongan dalam insiden tersebut. Telepon genggam milik salah seorang mahasiswa juga disebut sempat ditarik.
Menanggapi desakan massa, Rudy menyatakan akan mengambil tindakan terhadap ajudannya dengan mengembalikannya ke satuan asal.
Ketegangan kembali mencuat ketika Rudy menyatakan dirinya tidak pernah menghalangi wartawan. Sejumlah mahasiswa yang berada di lokasi langsung meneriakkan, “Bohong-bohong!” sebagai bentuk ketidakpercayaan terhadap pernyataan tersebut.
Meski sempat mereda setelah gubernur menemui demonstran, situasi kembali memanas sekitar pukul 17.56 Wita, ketika Rudy masuk ke kantor gubernur. Massa dan aparat kembali terlibat aksi saling dorong sebelum keadaan berangsur kondusif.
Candra menegaskan, GERAM akan mempertimbangkan langkah lanjutan apabila tuntutan yang disampaikan tidak mendapat tindak lanjut konkret dari pemerintah.
“Jika tuntutan kami tidak diindahkan, kami akan mempertimbangkan langkah lanjutan bersama seluruh elemen,” tutupnya. (Din/Fch/Klausa)








