Lompat ke konten utama

Klausa.co

Karang Mumus Jadi Satu-satunya Wakil Indonesia, Samarinda Kumpulkan 515 Data di The Home River Bioblitz 2026

Peserta The Home River Bioblitz 2026 mengamati keanekaragaman hayati di Sungai Karang Mumus, Samarinda, Minggu (20/9/2026).

Bagikan

Samarinda, Klausa.co – Sebanyak 515 data observasi keanekaragaman hayati berhasil dikumpulkan dari Sungai Karang Mumus dalam The Home River Bioblitz 2026. Capaian itu menempatkan Samarinda di posisi keenam dunia berdasarkan jumlah pengamatan harian, sekaligus menjadikan Karang Mumus satu-satunya sungai dari Indonesia yang mengikuti kegiatan tersebut.

Founder Kalimantan Kreatif sekaligus penanggung jawab wilayah Indonesia, Rusdianto, mengaku senang melihat antusiasme peserta dalam kegiatan yang mempertemukan masyarakat, akademisi, dan komunitas lingkungan tersebut.

“Saya sangat bahagia mengikuti ini,” kata Rusdianto.

Kegiatan yang digelar Kalimantan Kreatif bersama River Collective itu berlangsung Minggu (20/9/2026), di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Karang Mumus, segmen Jalan Gelatik, belakang Universitas Mulawarman (Unmul). Mengangkat tema Sungai Karang Mumus Calling, Observe, Discuss, and Connect, peserta diajak mengamati berbagai jenis flora dan fauna, mencatat temuan, kemudian mendiskusikannya.

Baca Juga:  Tega! Kakak di Samarinda Cabuli Adik Kandung, Polisi Dalami Keluarga Pelaku

Bagi Rusdi, kegiatan tersebut bukan sekadar aktivitas pengamatan lingkungan. Data yang dikumpulkan dari lapangan menjadi bagian penting untuk memperluas pengetahuan mengenai kondisi sungai dan keanekaragaman hayatinya.

“Home River Bioblitz ini adalah upaya kecil untuk memahami sungai kita dan data yang dikumpulkan itu akan menjadi kontribusi kita terhadap sains dunia,” ujarnya.

The Home River Bioblitz 2026 berlangsung serentak pada 18–20 September di 144 sungai yang tersebar di 77 negara. Di Samarinda, sebanyak 113 orang tercatat dalam kepanitiaan dan kepesertaan, dengan 97 orang mengikuti pengamatan secara langsung. Lebih dari 60 di antaranya merupakan mahasiswa Fakultas Pertanian Unmul.

Besarnya keterlibatan masyarakat, menurut Rusdianto, perlu diimbangi dengan pendampingan dari kalangan yang memiliki kompetensi ilmiah. Karena itu, akademisi dan peneliti turut dilibatkan dalam proses pengamatan.

Baca Juga:  Jembatan Gang Nibung Dirobohkan, Wali Kota Samarinda Janji Bangun yang Lebih Bagus

“Kehadiran akademisi, ilmuan dan researcher adalah sebagai upaya agar proses observasi sains warga yang dilakukan lebih terarah,” imbuhnya.

Dosen Fakultas Pertanian Unmul, Dr. Muhammad Ichsan Haris, menilai keterlibatan masyarakat dalam pengamatan ekosistem sungai merupakan langkah konkret untuk mengenali lingkungan sekitar.

“Ini adalah sebuah kolektif yang patut kami apresiasi. Di tengah berbagai kesulitan yang dihadapi masyarakat berkaitan langsung dengan kondisi alam, gerakan untuk mengenali sekitar, terutama ekosistem sungai, adalah hal yang konkret,” katanya.

Menurut Ichsan, kegiatan tersebut juga memberi pengalaman belajar langsung bagi mahasiswa, khususnya dalam memahami taksonomi, tumbuhan, hewan, dan biodiversitas sungai.

“Selain itu, dalam konteks sebagai aktivitas akademik, ini juga membantu mahasiswa menemukan cara baru yang lebih mudah dan menyenangkan untuk mempelajari taksonomi tumbuhan, hewan, dan biodiversitas sungai,” pungkasnya. (Din/Fch/Klausa)

Baca Juga:  Jalan Jakarta Rusak Parah, DPRD Kaltim Usul Truk Dialihkan ke Ring Road M. Said

Bagikan

.

.

Search
logo klausa.co

Afiliasi :

PT Klausa Media Indonesia

copyrightâ“‘ | 2021 klausa.co